Mantan Kapolri Awaloedin Djamin Tutup Usia, Ini Jabatan dan Penghargaan yang Pernah Diterimanya

Mantan Kapolri Awaloedin Djamin Tutup Usia, Ini Jabatan dan Penghargaan yang Pernah Diterimanya

Mantan Kapolri Awaloedin Djamin Tutup Usia, Ini Jabatan dan Penghargaan yang Pernah Diterimanya
KOMPAS.com/Icha Rastika
Ketua Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah Sumatera Barat Jenderal (Purn) Polisi Awaloedin Djamin di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (28/7/2015) seusai bertemu dengan Kalla. 

Mantan Kapolri Awaloedin Djamin Tutup Usia, Ini Jabatan dan Penghargaan yang Pernah Diterimanya

POS-KUPANG.COM - Mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Awaloedin Djamin tutup usia hari ini, Kamis (31/1/2019). Awaloedin meninggal dunia pada usia 91 tahun di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Semasa hidupnya, pria kelahiran Padang, Sumatera Barat pada 26 September 1927 ini pernah mengenyam pendidikan di University of Southern California, AS pada 1962.

Kemudian, dia menjabat sebagai lektor luar biasa di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 1964.

Gerak Gerik Roiyani Mencurigakan, Setelah Diperiksa Petugas Imigrasi Temukan Sabu Dalam Sepatu

Setelah itu, karier Awaloedin beralih ke pembantu presiden menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja Kabinet Ampera (1966) dan Deputi Pangkat Urusan Khusus (1968) ketika Kapolri Hoegeng Iman Santoso masih bertugas.

Dua tahun kemudian Awaloedin menjadi Direktur Lembaga Administrasi Negara (LAN). Setelah itu, ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Jerman Barat pada tahun 1976.

Menuju Zero Accident, Ini Tiga Tekad Generasi Milenial Kabupaten Lembata, Apa Saja?

Dua tahun menetap di Jerman, akhirnya ia dipanggil pulang ke Jakarta untuk dilantik menjadi Kapolri pada 26 September 1978 oleh Presiden Soeharto.

Dalam masa tugasnya sebagai Kapolri, Awaloedin juga memimpin organisasi Polri yang diarahkannya pada kelembagaan yang dinamis dan profesional.

Misalnya, pada tahun 1981, terdapat pengesahan KUHAP atau Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 sebagai hasil karya bangsa Indonesia yang disahkan oleh DPR-RI.

Adapun KUHAP ini berperan sangat penting, yakni sebagai pengganti Het Herziene Iniandsh Regiement (HIR) atau hukum acara pidana produk kolonial Belanda yang dianggap koservatif dan tidak manusiawi.

Jabatan Kapolri ini ia jabat hanya empat tahun. Diketahui, Awaloedin pensiun dari Kapolri pada 3 Desember 1982. Dia diganti oleh Anton Soedjarwo. Kemudian, ia meneruskan hasratnya dalam bidang pendidikan yang kemudian mengabdikan dirinya sebagai Dekan PTIK pada 1987.

Dikutip dari Harian Kompas, Awaloedin dilantik sebagai Dekan PTIK oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Fuad Hassan di kampus PTIK pada Selasa 15 September 1987.

Semasa hidupnya, Awaloedin menerima sejumlah penghargaan sebagai tanda jasanya, seperti Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara, dan Bintang Mahaputra Adipradana.

Kemudian, penghargaan lain yang juga diterima Awaloedin, yakni Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II), Satya Lencana Karya Bhakti, Satya Lencana Yana Utama, Satya Lencana Panca Warsa, Satya Lancana Peringkat Perjuangan Kemerdekaan RI, dan Satya Lencana Penegak Veteran Pejuang Kemerdekaan RI.

Tak hanya penghargaan dalam negeri, Awaloedin juga pernah menerima Das Gross Rreuz dari jerman Barat dan The Philipine Legion of Honor dari Pemerintah Filipina. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved