Berita Kabupaten Ngada

Emanuel Bilang Penilaian Bajawa Kota Terkotor Tidak Objektif

Penilaian Adipura pada Juni 2017 dan memang saat itu Kota Bajawa belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang jelas.

Emanuel Bilang Penilaian Bajawa Kota Terkotor Tidak Objektif
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada, Emanuel Kora, S.Sos., M.Si

POS-KUPANG.COM | BAJAWA --Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada Emanuel Kora, S.Sos., M.Si mengaku kesal keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan nama kota Bajawa sebagai salah Kota kecil terkotor di Indonesia.

Emanuel mejelaskan yang ia ketahui adalah Penilaian Adipura pada Juni 2017 dan memang saat itu Kota Bajawa belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang jelas.

Namun pada Pertengahan Agustus 2018 Kota Bajawa telah memiliki TPA yakni di Manubhara, Desa Naru, Kecamatan Bajawa.

TPA memang merupakan penilaian tertinggi untuk Adipura sehingga aneh memang penilaian 2017 diumumkan 2019 sementara penilaian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Prediksi BMKG : Potensi Hujan Disertai Petir Terjadi di 6 Kabupaten di NTT

Ini Pesan Uskup Weetabula Saat Misa Penyerahan Izin Operasional SMAK St.Yohanes Neumann

Jadikan Anakoli Sebagai Desa Wisata Unggulan di Nagekeo, Ini yang Dilakukan TPID Wolowae

Ia menjelaskan sejak tahun 2011 Bupati Ngada saat itu Marianus Sae dengan Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa memberikan perhatian terhadap masalah kebersihan kota Bajawa dimana salah satu terobosan adalah mempekerjakan 65 tenaga outsourcing untuk mengatasi masalah sampah dan kebersihan dalam kota Bajawa dan masih berlangsung sampai sekarang bahkan ada pula Perda tentang penanggulangan sampah.

"Saya kecewa sekali dengan penilaian ini tetapi saya juga ambil hikmah positif.Tim dari pusat bisa datang dan langsung lihat kenyataan," ujar Emanuel, kepada POS KUPANG.COM, Senin (21/1/2019).

Ia menjelaskan petugas kebersihan Kota Bajawa pada setiap jalur jalan protokol dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang tiap hari bertugas dengan baik.

Tahun 2013 katanya Kota Bajawa mendapat predikat sebagai kota terbersih di NTT dan saat ini di NTT yang memiliki incenerator untuk olah sampah hanya di Pemda Ngada.

"Kami di TPA juga lakukan pemilahan antara sampah organik dan non organik. Semua sampah organik diolah menjadi pupuk organik sedang yang tidak bisa dioleh disimpan di TPA. Kendaraan roda 3 pengangkut sampah ada 12 namun 4 rusak. Truk pengangkut sampah juga terbatas,"katanya

Ia mengaku para wisatawan dari luar negeri juga pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Kota Bajawa sangat bersih, indah, sejuk dan asri.

Halaman
12
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved