Berita Kabupaten Lembata Terkini

Buruh Pelabuhan di Lewoleba Minta Dibayar Seiklasnya Setiap Turunkan Barang dari Kapal

Buruh Pelabuhan di Lewoleba Minta Dibayar Seiklasnya Setiap Turunkan Barang dari Kapal

Buruh Pelabuhan di Lewoleba Minta Dibayar Seiklasnya Setiap Turunkan Barang dari Kapal
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Ketua Umum Pengurus Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Lewoleba, Hendrikus Buran 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Ini hal yang sungguh mengejutkan. Para buruh di Pelabuhan Lewoleba, tak meminta bayaran setiap kali menurunkan barang dari atas kapal. Yang diminta kepada pemilik barang adalah membayar seiklasnya kepada mereka. "Dikasih Rp 10.000 juga terima kasih, dibayar lebih pun terima."

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Pengurus Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Lewoleba, Hendrikus Buran ketika ditemui POS-KUPANG.COM, Senin (21/1/2019). Karena hal itu, ia pun mengklaim, bahwa Pelabuhan Lewoleba paling aman di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, para buruh selalu mengedepankan budaya lamaholot dan tak pernah menuntut lebih saat bekerja.

Dia mengatakan, "Dulu, sebagaimana buruh lainnya di NTT, mereka selalu ngotot dan meminta bayaran mahal saat hendak mengangkat barang penumpang dari atas kapal. Tapi sekarang tidak lagi. Buruh di Lembata hanya punya dua kata kunci, yakni bayar seiklasnya."

Rasio Elektrifikasi Provinsi NTT Baru 62 Persen, Butuh Satu atau Dua Tahun Capai 100 Persen

Perubahan sikap tersebut, katanya, semenjak dibentuk organisasi buruh di daerah itu tahun 2006 silam. Sejak itu buruh di Lewoleba tak lagi menuntut harga saat bekerja. Sebagai misal, saat mengangkat barang penumpang turun dari kapal Pelni, para porter tak bicara soal harga. Yang diminta adalah pemilik barang membayar seiklasnya kepada mereka.

"Tapi ada juga yang mematok harga, hanya saja saat ini tak lagi demikian. Mereka tak meminta bayaran yang mahal, tapi yang disampaikan hanyalah bayar sekhlasnya. Makanya saat ini banyak penumpang pelni terutama dari Adonara dan Solor lebih memilih turun di Lewoleba daripada Larantuka," ujarnya.

Belum Ada Regulasi, Biaya Angkut Barang Penumpang Kapal di Labuan Bajo Tergantung Negosiasi

Saat ini, katanya, tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Lewoleba sebanyak 176 orang. Jumlah ini relatif banyak. Namun masih sesuai dengan ramainya aktivitas bongkar muat barang maupun penumpang di daerah itu.

Pernah, lanjut dia, ada rencana untuk memisahkan buruh bongkar muat barang maupun buruh kapal pelni. Tapi niat itu diurungkan karena di Lembata, hanya ada satu pelabuhan yang digunakan bersama oleh kapal pelni dan kapal niaga. Oleh karena itu, buruh bongkar muat barang adalah juga buruh kapal pelni.

"Saya tidak mau para buruh dipisahkan antara buruh bongkar muat dan buruh kapal pelni. Sebab pelabuhan di Lembata hanya satu tapi dipakai bersama. Makanya saat ini yang namanya buruh bongkar muat adalah portir untuk kapal pelni," ujarnya.

Mengenai tarif buruh, Hendrikus menuturkan, sesuai Keputusan Menteri (KM) Nomor 35 tahun 2007
tentang Tarif Bongkar Muat, dan ketentuan upah minimum propinsi (UMP) maka seharusnya, untuk tarif barang, hitungannya Rp 72.000/meter kubik. Jika menggunakan ketentuan itu, maka upah buruh sesuai UMP NTT Rp 1.660.000/orang/bulan.

Namun ketentuan itu tak berlaku di Lembata. Pihaknya juga sudah meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata untuk memikirkan nasib buruh. Tapi sampai saat ini peran pemerintah tidak terlihat sama sekali. Pemerintah, katanya, justeru cenderung memihak pengusaha. Karena sampai saat ini pemerintah tak pernah memperhatikan nasib buruh.

Meski nasib buruh tak diperhatikan, lanjut dia, tapi para buruh di Lewoleba, tetap bekerja seperti biasa. Bila ada barang, maka buruh membongkarnya dari dalam palka hingga di gudang. Demikian juga kala kapal pelni merapat maka para buruh juga berperan sebagai portir untuk menurunkan barang milik penumpang dari atas kapal ke pelabuhan.

Hendrikus menepis ketika ditanyakan soal tarif buruh mahal di Lembata. Ia menyebutkan, di NTT ini hanya Pelabuhan Lewoleba yang buruhnya tak mematok harga. Bahkan yang menentukan harga bongkar muat barang atau menurunkan barang penumpang, adalah pemilik barang.

"Setiap kali ada negosiasi harga, para buruh hanya mengatakan bahwa bayar seiklasnya. Dan, cara itu mungkin hanya ada di Lembata, hanya satu-satunya di NTT. Tapi kalau ada yang masih bicara harga, itu sangat kasuistik. Karena umumnya di Pelahuhan Lewoleba, para buruh selalu mengatakan bayar seiklasnya," ujar Hendrikus.

Lantaran cara itu sudah membudaya di pelabuhan, sehingga para ojek pun menerapkan gaya itu. Hasilnya justeru luar biasa. Kebanyakan pemakai jasa membayar buruh lebih mahal dari seharusnya. Tapi hal tersebut umumnya berlaku kala kapal pelni tiba di Pelabuhan Lewoleba. Sedangkan bongkar barang para pengusaha, harganya di bawah standar. "Tapi mau bilang apa, para buruh terpaksa ikut saja, karena lapangan kerja relatif kurang di Lembata," ujar Hendrikus. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved