Berita Kabupaten Lembata Terkini

Tentang Kepemilikkan Tanah di Pantai Wade !Tetua Adat Balurebong Protes Geradi Tukan

bersama masyarakat melakukan protes kepada Geradi Tukan, salah seorang akademisi di Unwira Kupang. Mereka menuding Geradi Telah membelokkan fakta

Tentang Kepemilikkan Tanah di Pantai Wade !Tetua Adat Balurebong Protes Geradi Tukan
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
PERTEMUAN -- Suasana pertemuan antara masyarakat Desa Balurebong dengan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur (kanan) di Kantor Bupati Lembata, Jumat (18/1/2019). 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Kepala Desa Balurebong, Marsel Talo dan tetua adat desa itu bersama masyarakat melakukan protes kepada Geradi Tukan, salah seorang akademisi di Unwira Kupang. Mereka menuding Geradi Telah membelokkan fakta sejarah tentang status kepemilikan tanah di pantai wisata Wade, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.

Protes itu dilakukan Marsel Talo dan tetua adat serta masyarakat Balurebong, dalam pertemuan di ruang rapat Kantor Bupati Lembata, Jumat (18/1/2019). Pertemuan itu difasilitasi oleh Bupati Sunur dengan mempertemukan dua pihak, yakni Geradi Tukan bersama tetua adat Desa Lamatuka dengan tetua adat dari Desa Balurebong.

Namun hingga pertemuan berlangsung sekitar pukul 14.00 Wita, pihak Geradi Tukan tidak memenuhi undangan Bupati Sunur. Yang datang ke Kantor Bupati Lembata dan mengikuti pertemuan itu hanya warga dari Desa Balurebong yabg dipimpin Kades Marsel Talo.

Pertemuan itu dipimpin langsung Bupati Sunur didampingi Penjabat Sekda Lembata, Anthanasius Aur Amuntoda. Hadir pula Penjabat Camat Lebatukan, Petrus Ruing dan Penjabat Kepala Desa Banitobo, Bernadus Beda bersama sekretaris desa itu.

Marsel menuturkan, Wade itu merupakan tanah ulayat milik Balurebong. Bukti kepemilikan itu sejak nenek moyang dulu. Desa itu (dulu kampung, Red), katanya, ditemlati tiga suku besar yakni Semuki, Raring dan Atawolo. Dulu, hanya leluhur Balurebong yang bisa berburu hingga di Wade. Sedangkan yang lainnya tidak.

Setelah berburu, katanya, barulah warga desa-desa sekitar diundang untuk menikmati hasil perburuan tersebut. Ada banyak sekali bukti sejarah yang menunjukan bahwa Wade merupakan tanah ulayat milik Bakurebong. Atas dasar itulah warga Balurebong kemudian setuju bila pemerintah hendak melaksanakan pembangunan di lokasi wisata tersebut.

Untuk Pengadaan Pakaian Anggota DPRD NTT !Ratusan Juta Uang Rakyat Digunakan

Jabatan Sekda Kota Kupang Dilelang Terbuka ! Pejabat dari Kabupaten/Kota se-NTT Bisa Ikut

Awalnya, lanjut Marsel, masyarakat setempat dan warga desa lainnya setuju atas rencana pemerintah itu. Namun ketika pemerintah mulai membangun tempat itu, muncul tulisan Geradi Tukan yang membelokkan fakta sejarah itu.

"Kami menilai ada pihak lain yang menjadi provokator dan mau menggagalkan pembangunan itu. Kami sudah minta Geradi Tukan dan tetua adat Desa Lamatuka agar bertemu dan membicarakan hal ini, tetapi itu tak dipenuhi," tutur tokoh masyarakat Balurebong, Petrus Raring dengan nada marah.

Saat itu, salah seorang tetua adat menyatakan akan melakukan sumpah adat dengan Geradi Tukan di lokasi tanah adat. "Kami minta Geradi Tukan bicara di depan kami tentang tanah itu," tandas Lorens Berani. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved