Opini Pos Kupang

Untuk Membumikan Literasi di Nusa Tenggara Timur Perlu Gerakan Ini

Karena jalannya berliku, tantanganya tidak sedikit, gerakan literasi membutuhkan kerja sama dari semua komponen

Editor: Putra
POS-KUPANG.COM/FELIKS JANGGU
Ratusan pelajar SD, SMP dan SMA/SMK mengikuti edukasi dan literasi keuangan yang digelar PT BPR Bank Usaha Dana Larantuka, Jumat (27/4/2018). 

Oleh: Maksimus Masan Kian, S.Pd
Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia/AGUPENA Cabang Flores Timur

POS-KUPANG.COM - Berkecimpung dalam dunia literasi, saya menemukan bahwa literasi itu adalah sebuah gerakan.Gerakan membangun budaya membaca dan menulis lewat aksi nyata.

Literasi tidak sebatas wacana, tidak sekedar retorika, pun tidak habis didefenisi. Butuh penggerak yang terus bergerak secara sukarela. Rela menggadaikan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi pada jalan ini.

Karena jalannya berliku, tantanganya tidak sedikit, gerakan literasi membutuhkan kerja sama dari semua komponen. Melestarikan gerakan ini mesti menjadi tanggung jawab bersama segenap anak bangsa.

Dari sisi jumlah, orang yang mengambil peran sebagai penggerak literasi jumlahnya tidak banyak. Sedikit saja! Bisa dihitung dengan jari. Fakta ini wajar, sebab di zaman semoderen ini, siapa yang ikhlas memberi diri, bekerja tanpa dibayar...?

BERITA POPULER: Isi Surat Bebas Ahok Nasib Jebolan Indonesian Idol & Mantan Syahrini Ditangkap

Begitu Bebas, Ahok Janji Akan ke NTT dan Lakukan Hal Berikut Ini untuk Warga NTT

Ramalan Zodiak Jumat 18 Januari 2019, Libra Dermawan, Aquarius Bekerja Keras

Sangat tidak diminati. Zona nyaman itu tidak gampang untuk ditinggalkan . Sekadar sampingan atau mengisi waktu menggiatkan gerakan literasipun pasti membutuhkan kalkulasi yang panjang soal untung rugi, sebelum keputusan diambil.

Gerakan literasi secara nasional, dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sejak diluncurkan, pada Tahun 2015, hingga kini belum menuai hasil yang memuaskan.

Hemat penulis, salah satu faktor penyebabnya adalah keterbatasan jumlah penggerak yang mampu mendaratkan program ini secara baik hingga ke sekolah-sekolah di pelosok. Guru yang diharapkan sebagai garda terdepan menghidupkan gerakan literasipun, masih nampak belum ikhlas mengambil peran.

Baru segelintir guru saja

GLS yang dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti belum memberi dampak yang luas. Hasil pemberlakuan 15 menit membaca bagi siswa setiap hari sebelum pelajaran, belum memberi hasil yang terukur baik.

Pemberlakuan di lapangan, tidak merata. Sebagian sekolah menjalankan, sementara yang lain belum memutuskan untuk menjalankannya. Seolah-olah aturan ini diserahkan ke sekolah dan menentukan kebijakannya sendiri. Terkesan sifatnya tidak wajib.

Gambaran di atas menjadi sebuah fenomena yang patut dievaluasi dan tidak perlu diperdebatkan. Hal yang dibutuhkan adalah solusi. Semua tempat, setiap waktu adalah ruang belajar. Pun, semua orang adalah guru. Maka tidak rumit menggerakan literasi, memanfaatkan tempat di mana saja sebagai ruang belajar anak.

Cara membumikan gerakan literasi di lingkungan masyarakat sederhana. Teras rumah misalnya, bisa menjadi satu titik pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Tempat bertemunya anak-anak dengan penuh keceriaan mengasah minat dan bakat untuk membaca dan menulis.

Mengembangkan bakat mewarnai, melukis, bernyanyi, menari, membacakan puisi, musikalisasi puisi, memanfaatkan barang bekas untuk menghasilkan kerajinan tangan yang kreatif, dan lain-lain.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved