Berita Kabupaten Lembata Terkini

Di Kabupaten Lembata ! Mengapa Kasus Jembatan Waima Dilaporkan ke KPK ?

Jembatan Waima yang opritnya jebol karena diterjang banjir besar, berpeluang menjadi masalah panjang di Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timu

Di Kabupaten Lembata ! Mengapa Kasus Jembatan Waima Dilaporkan ke KPK ?
Pos Kupang.com/Frans Krowin
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN DIALOG -- Aksi demo ASTAGA di Gedung DPRD Lembata, Kamis (17/1/2019). 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS.KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Jembatan Waima yang opritnya jebol karena diterjang banjir besar, berpeluang menjadi masalah panjang di Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengapa?

Jawabannya, jebolnya oprit jembatan itu telah dilaporkan oleh jejaring ASTAGA di Jakarta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kasus itu dibawa ke ranah tersebut karena ASTAGA menduga dana yang dialokasikan senilai Rp 1,7 miliar itu tak seluruhnya digunakan untuk jembatan itu.

Mereka juga mempertanyakan ke Dewan, mengapa merestui anggaran sebesar itu untuk pembangunan jembatan mini di kali Waima. Padahal kali Waima itu besar sehingga pemerintah seharusnya membangun jembatan yang besar juga di kali tersebut. Bukan sebaliknya anggaran sebesar itu hanya untuk pembangunan jembatan sekecil itu.

Kepergok Ngamar Dengan Dosennya, Mahasiswi Politani Bilang Tidak Trauma

Mereka juga mempertanyakan konstruksi jembatan itu. "Bagaimana mungkin jembatan di Waima itu hanya dibangun dengan model gorong-gorong? Pantas saja ketika diterjang banjir, jembatanya langsung putus.

Itu sama artinya dengan kita membuang-buang uang di kali Waima. Padahal di saat yang sama, masih banyak fasilitas lain yang harus dibenahi, seperti jalan yang berlubang-lubang di dalam kota atau ruas jalan lain ke desa-desa," tandas Broin.

ASTAGA menyebutkan, saat anak-anak Lewotana di Jakarta mendatangi KPK dan berkonsultasi tentang jembatan itu, KPK menyebutkan bahwa jembatan Waima paling banyak menelan anggaran Rp 500 juta. Bukan Rp 1,7 miliar seperti yang terjadi di Lembata.

Untuk itu, kata Broin, ASTAGA akan terus mengawal kasus jebolnya jembatan tersebut. Ia meminta polisi dan jaksa agar segera mengusutnya, karena pembangunan jembatan itu diduga memendam aroma penyelewengan keuangan negara. "KPK saja menyebutkan bahwa jembatan mini itu paling banyak menelan dana.Rp 500 juta. Berarti selebihnya berpeluang diselewengkan. Ini harus segera diusut," tandas Broin.

Itu Dana Tak Terduga

Ketua Komisi II DPRD Lembata, Laurensius Karangora, mengatakan, untuk jembatan Waima itu, awalnya Dewan setuju untuk dialokasikan anggaran Rp 11 miliar. Akan tetapi, pemerintah daerah tidak punya dana sebesar itu sehingga akhirnya dana tidak dialokasikan untuk itu.

Dalam perjalanan, lanjut dia, Dewan dalam hal ini Komisi II menyetujui usulan pemerintah untuk dialokasikan dana Rp 2,5 miliar sebagai biaya tal terduga yang dapat digunakan pemerintah untuk kepentingan masyarakat. "Tapi Dewan hanya merestui saja. Dewan tidak mencampuri sama sekali pemanfaatan dana itu. Sebab sesuai regulasi, biaya tak terduga itu merupakan kewenangan bupati untuk memanfaatkannya," urai Laurens.

Sampai saat ini, katanya, Dewan juga belum mendapat laporan dari pemerintah tentang pemanfaatan dana tersebut. Hanya saja informasi yang berkembang, dari Rp 2,5 miliar itu, sebesar Rp 1,7 dimanfaatkan untuk jemvatan darurat di Waima dan sisanya untuk pengerjaan dua plat deker di desa lain. "Tapi sampai sekarang Dewan masih menunggu laporan pemerintah tentang penggunaan biaya tak terduga itu," lanjutnya.

Dikatakannya, jembatan Waima itu memang berada dalam ruas jalan propinsi. Data itu sudah ada pada Dewan. Bila jembatan itu ada di ruas jalan propinsi, maka masyarakat tentunya menunggu jawaban pemerintah propinsi. Jawaban itu penting untuk kebaikan masyarakat dan daerah itu.

Akan tetapi, katanya, apabila masyarakat menghendaki agar kasus itu diproses secara hukum, ya silahkan saja. "Jika mau diproseshukumkan silahkan," ujar Laurens. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved