Opini Pos Kupang

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur Sangat Kaya. Inilah Datanya

Target ini dibuat berdasarkan pada fakta pencapaian Kementerian ESDM yang dapat menaikkan rasio elektrifikasi nasional

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur  Sangat Kaya. Inilah Datanya
POS KUPANG/JOHN TAENA
Pembangkit listrik tenaga angin di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Minggu (19/3/2017) 

Nilai potensi energi matahari ini didapat menggunakan persamaan modifikasi Angstrom dimana data lama penyinaran matahari dan kelembaban merupakan data pengamatan langsung dari seluruh stasiun BMKG di provinsi NTT.

Diketahui bahwa wilayah yang memiliki estimasi energi potensi sebesar 5-6 kWh/m2 yaitu Ende, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Sabu Raijua, Sikka, Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah. Wilayah yang memiliki energi potensi sebesar 6-7 kWh/m2 yaitu Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kabupaten Kupang, Lembata, Malaka, Rote Ndao, Sikka, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara.

Sedangkan wilayah yang memiliki energi potensialnya hingga 7-8 kWh/m2 yaitu Alor, Flores Timur, Kabuapten Kupang, Kota Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan.

Sedangkan angin ialah aliran massa udara yang mengalir akibat adanya rotasi bumi dan perbedaan tekanan udara. Angin bergerak dari tempat bertekanan tinggi menuju tekanan rendah. Angin dinyatakan dalam arah (mata angin) dan kecepatan (knot). Pengukuran angin yang dilakukan BMKG adalah angin permukaan yaitu diukur pada ketinggian 10 meter menggunakan alat Anemometer.

Berdasarkan analisis data kecepatan angin pada ketinggian 10 meter, dari stasiun pengamatan BMKG didapatkan potensi energi angin di Provinsi NTT berkisar antara 0-2 Kwh/m2, dimana paling berpotensi terletak pada daerah Belu, Malaka, Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara yaitu sebesar 1-2 Kwh/m2.

Jika dilihat dari besarnya potensi yang dihasilkan, potensi energi matahari jauh lebih baik daripada potensi energi angin. Hal ini karena pada malam hari lebih banyak terjadi angin mati (calm) dan terkadang pola angin musiman berubah dari waktu ke waktu.

Sejauh ini pemanfaatan energi matahari merupakan energi terbarukan yang paling potensial untuk dikembangkan mengingat provinsi ini yang paling panjang mengalami musim kemarau (cuaca panas). Umumnya siklus cuaca panas dapat berlangsung hingga 8-9 bulan dalam setahun.

Selain itu berdasarkan analisis data, umumnya tren (kecenderungan) persentase lama penyinaran matahari di NTT akan semakin meningkat setiap tahunnya. Laju kenaikan LPM tertinggi terjadi di wilayah sekitar kab. Alor dengan laju peningkatan 0.01190 C/tahun.

Disadari permasalahan yang sering timbul dalam pengembangan EBT adalah mahalnya teknologi yang sebagian besar komponennya masih diimpor dari luar negeri. Akan tetapi menurut penelitian biaya untuk memproduksi EBT semakin berkurang dari tahun ketahun seiring perkembangan teknologi.

Berdasarkan data dari laporan IRENA (International Renewable Energy Agency) Juni 2016, trend biaya panel surya dari tahun 2009 sampai hasil tahun 2016 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 80%.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved