Opini Pos Kupang

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur Sangat Kaya. Inilah Datanya

Target ini dibuat berdasarkan pada fakta pencapaian Kementerian ESDM yang dapat menaikkan rasio elektrifikasi nasional

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur  Sangat Kaya. Inilah Datanya
POS KUPANG/JOHN TAENA
Pembangkit listrik tenaga angin di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Minggu (19/3/2017) 

Meski perlahan, Indonesia sesunguhnya sudah menjalankan kesepakatan internasional tersebut. Berdasarkan target 23 % Energi Baru Terbarukan (EBT) yang harus dicapai pada tahun 2025, Indonesia telah mencapai angka 12 % per November 2017 dan masih tersisa delapan tahun untuk mencapai target yang ditetapkan (www.bisnis.tempo.co/28/11/2018).

Sejalan dengan hal tersebut adalah langkah stategis jika dalam mencapai target pemenuhan listrik di provinsi NTT seiringan dengan target menurunkan emisi GRK dengan cara pemanfaatan energi terbarukan.

Menurut data NTT sangat berpotensi dalam pengembangan energi terbarukan karena memiliki banyak sumber daya alam misalnya air, geothermal, gelombang laut, angin, panas matahari yang sayangnya belum dimaksimalkan.

NTT memiliki Sumba yang sudah ditetapkan sebagai iconic island of renewable energy atau pulau yang dijadikan ikon energi terbarukan dan Penetapan Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi berdasarkan Menteri ESDM nomor 2268 K/30/MEM/2017.

Sejauh ini stasiun-stasiun Meteorologi/klimatologi BMKG di NTT sudah sejak lama (kurang lebih 30 tahun) telah melakukan pengamatan terhadap karakteristik unsur-unsur meteorologi di atmosfer, dua di antaranya yaitu lama penyinaran matahari dan angin yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif energi terbarukan.

Lama penyinaran matahari (LPM) ialah lamanya matahari bersinar sampai permukaan bumi dalam periode satu hari yang diukur dalam jam. Lama matahari bersinar dalam periode hari bervariasi antar bulan tergantung kondisi atmosfer saat itu.

Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi dunia bahwa LPM didefinisikan sebagai kekuatan insolasi yang melebihi batas 120 W/m2 (WMO, 2008). Data LPM merupakan data yang penting dan diperlukan dalam usaha pemanfaatan energi matahari.

Di bawah ini merupakan data rata-rata persentase lamanya penyinaran matahari dari 08.00 hingga 16.00 setiap harinya dari 10 stasiun pengamatan BMKG. Pada umunya daerah-daerah di NTT memiliki Lama Penyinaran matahari yang tinggi, kecuali Ruteng yang paling rendah di antaranya.

Dari grafik terlihat pada bulan-bulan musim kemarau persentase mencapai 80-90% khususnya pada Agustus dan September dan bulan-bulan musim hujan mencapai 50-60% khususnya pada Januari dan Februari.

Tabel
Tabel (DATA)

Berdasarkan analisis BMKG, Provinsi NTT memiliki potensi energi matahari yang tinggi antara 5-8 kWh/m2. Nilai ini di atas rata-rata wilayah Indonesia umumnya berkisar mencapai 4-5 kWh/m2.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved