Berita NTT Terkini

Komunitas Pemerhati Lingkungan Wajibkan Anggota Tidak Boleh Merokok! Ini Konsekwensinya

Komunitas Karang, sebuah komunitas pemerhati lingkungan di Kota Kupang, mewajibkan anggota komunitasnya tidak boleh merokok.

Komunitas Pemerhati Lingkungan  Wajibkan Anggota Tidak Boleh Merokok! Ini Konsekwensinya
Pos Kupang.com/Ambuga Lamawuran
Penggagas Komunitas Karang yaitu Yuliana Mberu, Apridus Lapenangga, Budhi Lily. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Komunitas Karang, sebuah komunitas pemerhati lingkungan di Kota Kupang, mewajibkan anggota komunitasnya tidak boleh merokok.

Komunitas ini diprakarsai oleh beberapa arsitek di Kota Kupang, namun keanggotaannya tak hanya menerima para arsitek.

Mereka menerima semua kalangan, namun salah satu syarat menjadi anggota adalah tidak boleh merokok atau berusaha berhenti merokok.

Komunitas ini digagas oleh tiga orang, yakni Yuliana Mberu (Ketua komunitas Karang dan Penggagas), Apridus Lapenangga (Penggagas), dan Budhi Lily (Penggagas).

Yuliana Mberu mengatakan, selain sampah menjadi penyebab menyebarnya penyakit-penyakit lingkungan, rokok pun memiliki andil dalam menurunkan derajat kesehatan dan sebabkan polusi udara.

"Yang mau bergabung dalam komunitas ini adalah seorang yang tidak merokok dan apabila perokok, dia harus mempunyai komitmen untuk berhenti. Karena pada poin di atas isu yang diperhatikan dalam komunitas ini adalah polusi. Bukankah merokok itu salah satu penyumbang polusi udara yang paling dekat?" kata Yuliana.

Bahkan, imbuhnya, orang-orang di sekitar perokok menjadi perokok pasif yang justru lebih membahayakan kesehatan mereka.

"Bahaya rokok bagi kesehatan banyak sekali seperti gangguan jantung, paru-paru, dan impotensi. Juga bahaya bagi janin yang sedang dikandung. Bahaya ini bukan hanya bagi perokok namun juga berdampak buruk bagi perokok pasif terutama bayi, anak-anak dan ibu hamil," jelasnya.

Komunitas ini menargetkan beberapa isu lingkungan.

"Pertama, life style atau gaya hidup. Perlu menerapkan gaya hidup ramah lingkungan yang harus dimulai oleh diri sendiri di dari rumah, kampus, kantor dan lingkungan yang kita singgahi," jelas Yuliana.

Caranya, katanya, dengan menghemat listrik, menggunakan transportasi ramah lingkungan, mengurangi polusi, hemat air, menanam pohon, mengurangi produksi sampah, bervegetarian serta menjadi konsumen hijau.

Selain itu, imbuhnya, ada empat isu lain yang mereka geluti, yakni sampah, pohon, energi dan polusi udara. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved