Begini Perdebatan Ahli tentang Wanita Tertua yang Meninggal di Usia 122 Tahun

Jeanne Calment meninggal pada 1997 di kota Arles, Perancis tempat ia dilahirkan. Kematiannya sempat mengundang banyak perhatian dunia.

Begini Perdebatan Ahli tentang Wanita Tertua yang Meninggal di Usia 122 Tahun
Kompas
Ilustrasi 

POS KUPANG.COM -- Jeanne Calment meninggal pada 1997 di kota Arles, Perancis tempat ia dilahirkan. Kematiannya sempat mengundang banyak perhatian dunia.

Saat ia meninggal, Calment berusia 122 tahun dan disebut sebagai orang tertua yang didokumentasikan. Fakta tersebut telah disertifikasi oleh Guinness World Records serta ahli kesehatan masyarakat.

Namun ahli matematika dari Rusia Nikolay Zak belum lama ini meragukan klaim tersebut. Dalam sebuah laporan Zak mengungkapkan bahwa ia percaya Calment sebenarnya adalah Yvonne Calment, putri Jeanne Calment. Menurut Zak, Yvonne Calment mengambil identitas ibunya untuk menghindari pajak warisan pada 1930-an.

Jika benar yang dikatakan Zak, artinya Yvonne (yang selama ini dianggap sebagai Jeanne Calment) meninggal di usia 99 tahun pada 1997. Dalam laporan yang terbit di portal ResearchGate, Zak melampirkan sejumlah bukti. Melansir Science Alert, Senin (7/1/2019), Zak menunjukkan bahwa Jeanne Calment kehilangan kurang dari satu inci tinggi badannya saat berusia lebih dari 100 tahun.

Sementara Yvonne tingginya melebihi Jeanne. Kemudian bukti paspor Jeanne di tahun 1930-an memperlihatkan warna mata yang berbeda dibanding setelah itu. Selain itu, Zak juga menyangsikan adanya perbedaan fisik pada dahi dan dagu. Apa yang dikatakan Zak jelas membuat kegaduhan global dan media dari banyak negara mempublikasikannya.

Namun, hal ini dikecam oleh beberapa ilmuwan, termasuk Jean-Marie Robine yang mengesahkan umur Jeanne Calment dan menulis sebuah buku tentangnya. Menurut majalah Smithsonian, Calment pernah menjawab sejumlah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dirinya, seperti nama guru matematika dan pengurus rumah tangga di gedungnya.

"Putrinya tidak mungkin mengetahui hal tersebut," ujar Robine yang sempat mewawancarai Calment. Di lain pihak, Michel Vauzelle yang menjadi walikota Arles saat Calment meninggal mengatakan bahwa teori Zak sangat mustahil dan konyol. Nicolas Brouard dari Institut Nasional Studi Demografi Perancis mengatakan tes DNA dapat menyelesaikan perdebatan.

Kecurigaan Zak Dalam keterangan yang diterima The Washington Post, Zak mengatakan bahwa awal mula ia mencurigai usia Calment pada Februari ketika ia mempelajari pola kematian manusia yang berusia lebih dari 105 tahun. Dari situ, ia baru melakukan penyelidikan terhadap kehidupan Calment pada September.

"Saya mendanai proyek ini sendiri. Ini adalah kasus detektif yang menarik bagi saya. Mereka yang mengkritik apa yang sayang lakukan adalah mereka yang memiliki konflik kepentingan besar atau mereka yang tidak membacanya," ujar Zak. Meski ia sangat yakin dengan dugaannya, kepada Reuters Zak mengaku bahwa ia belum memiliki bukti kuat.

"Saya meninjau seluruh situasi, ada banyak bukti kecil yang ditemukan," imbuhnya. Atas penghargaan yang diberikan Guinness World Records, juru bicara Rachel Gluck mengungkap bahwa pihaknya selalu melibatkan sejumlah ahli untuk melakukan verifikasi. "Penelitian ekstensif dilakukan untuk setiap judul rekaman orang tertua yang kami verifikasi, yang dipimpin para ahli di bidang gerontologi dan mereka telah diberitahu tentang situasi saat ini," ujar Gluck.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved