Berita Puisi

Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini

Diari kita bernostalgia melulu,telah dirahasiakan di dalam selimutan tersandi, topik kita belum bersua di bandara asmara.

Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini
ils
stres1 

Puisi-Puisi Melki Deni
Melankolis Ruang

Diari kita bernostalgia melulu,
Telah dirahasiakan di dalam selimutan tersandi,
Topik kita belum bersua di bandara asmara,
Pula rasa kita masih menjerit ngeri
di jantung terminal melankolis ruang.
Hanya mau berjuang rasa,
Tuk diawetkan dengan formalin abadi.

Dusta Berdering Lagi

Izinkan aku berlari dari rana ini.
Borok ini beratnya terlampau sadis.
Bahkan dedaunan rela bercucuran,
Tangisi durjanamu yang enggan berkesudahan

Rautmu Mengutuk

Seribu tahun kertas kumal ini berhikayat,
Jejak itu masih terbilang misteri,
Pun dedaunan belia rela berguguran pagi-pagi,
Rautmu tak tertangkap mata kamera,
Jujurku pada barisan nyiur di pantai selatan,
Sum-sumku mengalir arus darahmu,
Aku dikutuk tuk memujamu setiap waktu.
(Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero Maumere)

Puisi-Puisi Fren Basa
360 Derajat

Seorang gadis dalam labirin
Ia mencari jalan keluar
Menebak makna rumus-rumus pada retakan tembok
Tak satupun memberinya petunjuk

Setahun kemudian dia bersembunyi di sudut
Pasrahkan tubuh agar semut datang memungut
Membawanya pada labirin lain dalam tanah,
Dindingnya memang mudah dirubuhkan
Gadis itu belum terbebaskan.
Gadis menangis satu malam
Dia ingin pulang, dia ingin pulang
(Aegela, 28 September 2018)

Aku dan Ketenangan

Aku bertemu dengan ketenengan di tengah malam
Kamu tahukan ketenangan yang tak mampu berbisik itu?

Hei, dia mengusikku tanpa suara
Datang hadirkan bayangan pagi dan senja

Siang tadi aku dikhianati
Rupanya ketenangan menyisahkan ruang buat hati
Hati yang patah, merasa perih.

Aku gelisah di tengah malam
Oleh karena ketenangan menyingkap kepalsuan

Ia membawaku pada permenungan
Akan tiada lagi rasa percaya yang tak beraturan
Ke depan, ke suatu masa adanya karma melakukan pembalasan

Ketenangan meneduhkan hatiku
Lalu Ia kembalikan aku pada kebijaksanaan
Melululantahkan murka, menghantarkan aku pada doa

Aku menengok bait puisiku yang terlewat
Kucabut sumpah yang libatkan karma
Aku malu pada ketenangan di tengah malam
Yang pelan-pelan pergi mengusik tetangga sebelah
(Aeramo, 21 September 2018)

Tunga

Kau istimewa
Kau panjang usia

Punggungmu kini seperti lengkungan periuk tanah
Ayunan langkah masih belum kalah dari pemuda
Belum nampak senduk yang kau pegang itu bergetar
Lengking makian masih lantang kau lontar

Kau masih pandai bercerita
Meski terkadang Basa, Taka, Bhoka dan Bali mengoreksi jalan cerita
Belum kalah bertengkar
Belum salah menganyam tikar

Kemarin temanmu pergi, Kulihat kau sedih
Lucunya tak setetes air matamu mengalir
Mungkin sudah mengering aku pikir

Tunga, kau panjang usia
Tanda sebentar kau pergi belum ada
Uban di delapan puluhmu malah mempercantik rupa

Tunga, jangan-jangan Tuhan sudah lupa engkau ada.
Ah tidak. Tugasmu belum selesai Tunga
Meski semua yang kau beri terasa cukup
Cinta besarmu belum saatnya ditutup.
(Aegela, 1 Desember 2018)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved