Opini Pos Kupang

Lisboa, De Carvalho dan Negeri Bencana

Tidak berselang lama setelah misa yang tenang dan khidmat dimulai, gempa dengan intensitas tinggi terjadi pada pukul 9:40.

Lisboa, De Carvalho dan Negeri Bencana
Ilustrasi Tsunami 

Ini tidak termasuk tsunami Selat Sunda yang dipicu oleh erupsi gunung berapi Anak Krakatau dan tanah longsor bawah laut yang melanda Banten dan Lampung pada Sabtu lalu (22/12/2018).

Dengan melihat jumlah korban yang begitu fantastis dalam hanya kurun waktu 1 tahun terakhir, bangsa Indonesia nampaknya belum belajar banyak dan menjadi bijaksana sejak gempa dan tsunami besar yang menghantam Aceh pada tahun 2004.

Belajar dari bencana Lisboa 1755 dan tindakan de Carvalho, setidaknya ada tiga poin penting yang perlu diambil di dalam memperbaiki upaya mitigasi, prediksi, dan edukasi kebencanaan juga rehabilitasi pasca bencana.

Pertama, inisiatif, peran dan komitmen para pemimpin dan pengambil kebijakan baik dalam institusi pemerintah maupun universitas sangat menentukan dalam usaha membangun kesadaran masyarakat akan bahaya alam dan bencana alam.

Kedua, penguatan riset, diseminasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Keanekaragaman pola dan mekanisme gempa dan tsunami di seperti yang terjadi di Palu dan Selat Sunda Indonesia seharusnya memacu para ilmuwan Indonesia untuk bergairah menelitinya.

Juga pengembangan sistem deteksi dini tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik yang hingga saat ini belum ada dan yang telah menjadi kambing hitam tsunami Selat Sunda seharusnya diresponi melalui usaha-usaha penelitian inovatif.

Selain itu, diseminasi hasil penelitian kegempaan sebagai masukan kebijakan pemerintah maupun materi edukasi kepada masyakarat harus lebih banyak ditingkatkan.

Dan yang ketiga, peningkatan solidaritas kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita yang mengalami musibah bencana alam. Ini akan memperkuat perasaan senasib sepenanggungan, menumbuhkan semangat kebersamaan untuk pulih dan bangkit kembali (resilience).

Ini juga memberikan keyakinan bersama bahwa hidup di dalam negeri yang berada di kawasan lingkaran cincin api yang rawan bencana alam bukanlah suatu bentuk hukuman ilahi. Sebaliknya ini menunjukkan bahwa manusia dan kehidupannya adalah bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dengan alam semesta yang dinamis. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved