Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Regional Terkini

50 Kapal Nelayan Terdampar di Pantai Bima Akibat Gelombang Tinggi, Ashari Dkk Hanya Pasrah

50 Kapal nelayan terdampar di Pantai Bima akibat gelombang tinggi. Ashari Dkk nelayan lainnya mengaku hanya bisa pasrah

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.com/SYARIFUDIN
Puluhan kapal nelayan terdampar di pantai Lawata Kota Bima akibat gelombang tinggi, Minggu (6/1/2019). 

50 Kapal nelayan terdampar di Pantai Bima akibat gelombang tinggi. Ashari Dkk nelayan lainnya mengaku hanya bisa pasrah

POS-KUPANG.COM | BIMA - Cuaca buruk yang terjadi dalam satu bulan terakhit membuat puluhan kapal ikan terdampar di perairan sekitar kawasan La Wata, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat ( NTB).

Sekitar 50 kapal pencari ikan tersebut berasal dari Desa Rompo, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Satu unit kapal yang terdampar membawa lima hingga 10 anak buah kapal (ABK).

Tak hanya itu, sebagian dari para ABK ini juga membawa istri dan anak untuk melaut. Para nelayan ini diketahui hendak mencari ikan di perairan utara Bima. Namun cuaca ekstrem di wilayah setempat memaksa mereka menghentikan aktivitas melaut.

Pasca-hoaks Surat Suara Tercoblos, Elite Politik Diminta Hati-hati Sebarkan Informasi

Mereka khawatir ombak besar disertai gelombang setinggi dua meter dan angin kencang akan mengancam keselamatan.

Keberadaan kapal-kapal berkapasitas besar ini, diketahui sudah lebih dari satu bulan. Puluhan Kapal tersebut tidak bergerak sama sekali sejak gelombang tinggi terjadi.

Polisi Mesir Tewas Terkena Ledakan Saat Jinakkan Bom di Gereja

Ashari, seorang nelayan mengaku, ia dan para nelayan lain lebih memilih menyandarkan perahu mereka di sekitar pantai yang ramai dikunjungi wisatawan lokal tersebut.

Mereka memilih menepi dan melemparkan jangkar di dekat pantai Lawata untuk berlindung sambil menunggu cuaca kembali normal.

"Sudah satu bulan lebih kita berlindung di sini. Ada sekitar 50 kapal yang terdampar. Cuacanya buruk, gelombang tinggi sekali serta angin kencang," kata Ashari saat di temui di kawasan La Wata, Minggu (6/1/2018).

Melihat kondisi cuaca ini, para nelayan hanya bisa pasrah. Mereka terpaksa menginap di atas kapal dan berharap cuaca segera normal kembali agar mereka bisa mencari nafkah.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa mengutang kepada pengepul ikan dan kembali ke desa melalui jalur darat.

"Tidak berani melaut, gelombang besar dan sangat berbahaya bagi keselamatan. Kita tidur aja di atas kapal. Buat makan sehari-hari, ya terpaksa kita ngutang ke pengepul untuk beli beras dan sayuran," ujar Ashari. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved