Opini Pos Kupang

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT

Sopi adalah nama lokal minuman beralkohol hasil dari penguapan cairan dari pohon aren atau lontar yang produksi oleh masyarakat di NTT

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT
POS KUPANG/HERMINA PELLO
ilustrasi 

Oleh Dr. Frans Salesman, SE.,M.Kes
Pengamat Kesehatan Masyarakat, Dosen STIKes Citra Husada Mandiri Kupang

POS-KUPANG.COM - Wacana tentang legalisasi produksi, distribusi, dan konsumsi minuman sopi telah menjadi topik pembicaraan masyarakat di NTT jelang tutup tahun 2018. Sebagian masyarakat menolak dan sebagiannya lagi menerima rencana legalisasi tersebut.

Belum ada pikiran jalan tengah atas pro dan kontra wacana tesebut. Walaupun artikel ini telah dipublikasi Journal of Drug and Alcohol Research terbit di Brussel-Belgia (Vol. 7/2018), namun penulis ingin menambah referensi ilmiah sebagai pencerahan di dalam perwacanaan tentang budaya minum sopi di masyarakat.di NTT.

Telaah Ilmiah

Sopi adalah nama lokal minuman beralkohol hasil dari penguapan cairan dari pohon aren atau lontar yang produksi oleh masyarakat di NTT. Kata sopi berasal dari bahasa Belanda, yaitu zoopje, berarti alkohol cair. Proses pembuatan melalui pembakaran selama berjam-jam dan hasil penguapannya diendapkan menjadi cairan yang disebut sopi.

Kepoin Ramalan Zodiak Kamu Hari Ini Senin 1 Januari 2019, Karir dan Asmara

Jadi Drama Korea Pertama yang Tayang di Youtube, Ini 4 Fakta Drakor Top Management

V BTS Ulang Tahun, ARMY Baper, V Citakan dan Ucapkan Kata-Kata yang Mengharukan

Cairan minuman sopi yang berkualitas "sedang" dengan kadar alkohol 30% biasanya hanya diuapkan satu kali, sedangkan, sopi berkualitas bagus dengan kadar alkohol >30% diuapkan dua kali. Sopi selalu hadir sebagai minuman bernilai adat dalam upacara adat-istiadat masyarakat NTT. Karena alasan itulah sopi tetap abadi sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Menyadari akan akibat konsumsi alkohol berlebihan terhadap kesehatan manusia, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan tentang Pengaturan dan pengawasan minuman beralkohol di Indonesia.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997 berisi pengaturan, pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol legal, namun telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung.

Pada era Reformasi, diterbitkan lagi Peraturan Presiden Nomor 74 tahun 2013 yang mengatur minuman beralkohol sebagai barang dalam pengawasan pihak berwenang.

Dalam Peraturan Presiden ini disebutkan kategori minuman beralkohol yang diproduksi industri adalah minuman mengandung etanol (C2H5OH) yang diproses dari bahan hasil pertanian mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi dan minuman beralkohol tradisional diproduksi secara tradisional dan turun temurun dikemas secara sederhana dan pembuatannya dilakukan sewaktu-waktu, serta dipergunakan untuk kebutuhan adat istiadat atau upacara keagamaan.

Dalam perkembangannya, sopi yang disuling dari arak pohon aren atau lontar semakin marak diproduksi masyarakat di pedesaan di NTT tanpa pengawasan dari aparatur berwenang.

Produksi sopi sebagai minuman tradisional semakin meningkat dari waktu ke waktu searah dengan tingginya permintaan sopi dari konsumen baik untuk kebutuhan acara adat maupun acara keagamaan tanpa mempertimbangkan dampak konsumsi sopi secara berlebiham terhadap kesehatan manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan penyalahgunaan alkohol menewaskan lebih banyak orang dibandingkan dengan kematian karena menderita AIDS, TBC, dan kejahatan dengan kekerasan. WHO memperkirakan sekitar 3,3 juta orang tewas pada tahun 2012 berhubungan dengan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Konsumsi alkohol yang berlebihan meningkatkan risiko timbulnya lebih dari 200 penyakit, termasuk siroris hati, tuberkulosis, dan beberapa jenis kanker. Konsumsi alkohol yang tidak bertanggung jawab merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan dan tindak kekerasan.

Badan Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) mengungkapkan penemuan terbarunya, semakin banyak kematian terjadi pada orang yang kecanduan alkohol. PHE menemukan kenaikan 1 % kematian terkait minum alkohol. Tahun 2013 sebanyak 22.779 orang, tahun 2014 meningkat menjadi 22.967 orang.

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2007 melaporkan jumlah remaja pengonsumsi minuman keras di Indonesia sebesar 4,9%, dan berdasarkan riset Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM), jumlah remaja pengonsumsi miras melonjak drastis menyentuh angka 23% dari total jumlah remaja Indonesia yang saat ini berjumlah 63 juta jiwa.

Nilai Ekonomis

Minuman sopi diproduksi di beberapa tempat memiliki nilai ekonomi sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga. Seorang produsen minuman sopi di Manggarai rata-rata bisa memproduksi sopi sebanyak 5 sampai 10 liter sehari. Harga per liter Rp 75.000.

Dengan penjualan sopi meraup pendapatan antara Rp 375.000-Rp 750.000 per hari. Dengan pendapatan sebesar itu, penjual sopi dapat membangun rumah, membeli peralatan rumah tangga, membeli sepeda motor, dan membiayai dua anaknya sampai perguruan tinggi.

Nilai Budaya

Masyarakat adat di NTT menjadikan minuman sopi sebagai alat perekat kekerabatan dalam berbagai urusan adat. Pada setiap momen acara yang telah terstruktur menurut jenis acara adat yang diwariskan oleh nenek moyang, minuman Sopi disuguhkan kepada peserta acara sampai mereka mabuk.

Selama acara adat berlangsung peserta acara menyanyi lagu-lagu adat, menari, disertai bunyi-bunyian gong dan gendang. Di Manggarai, minuman sopi juga bernilai magis. Sebelum doa adat diucapkan oleh juru torok, leluhur mereka disuguhkan minuman sopi dalam gelas yang disediakan sebanyak jumlah lelulur yang menjadi perantara doa mereka kepada Mori Keraeng (Pencipta Langit dan Bumi menurut kepercayaan orang Manggarai).

Perekat Sosial

Orang muda NTT telah mengenal sopi sebagai minuman keras sejak Sekolah Dasar. Mereka mengenal minuman sopi diajarkan oleh orang tua ketika diajak mengikuti acara-acara adat. Kebiasaan minum sopi sejak masa kecil menjadikan minuman Sopi sebagai perekat kekerabatan mereka di masa muda.

Perilaku minum sopi secara bersama-sama telah menjadi kebiasaan orang muda di NTT. Mereka telah mengenal dan mengkonsumsi sopi sejak usia 15-21 tahun. Ketika mereka berkumpul, jumlah sopi yang diminum berkisar antara 2-6 botol, tergantung banyaknya orang dan uang hasil patungan. Frekuensi minum biasanya 2-3 kali dalam seminggu tergantung acara pesta.

Konsumsi minuman Sopi berkaitan dengan hubungan sosial antar sesama remaja serta motif sosial; mengikuti teman sebaya, tekanan teman sebaya untuk merayakan kebahagiaan bersama. Para remaja yang meneguh minuman sopi akan merasakan peningkatan mood, kenaikan tingkat energi, akan lebih bersemangat, serta lebih percaya diri dalam hal bicara dan siap untuk melakukan sesuatu tindakan.

Simpulan

Minuman sopi termasuk alkohol yang mengandung etanol (C2H5OH) dengan kadar tinggi merusak metabolisme tubuh manusia terutama hepar. Konsumsi alkohol berlebihan menghasilkan lesi hepatik yang luas seperti steatosis berkembang menjadi steatohepatitis yakni kerusakan inflamasi hepar yang lebih parah.

Untuk mencegahnya pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pengendalian dan pengawasan terhadap produk minuman keras. Namun, aturan itu tidak efektif diberlakukan bagi produsen minuman tradisional sopi dengan berbagai alasan; minuman sopi memiliki atribut nilai ekonomi, budaya, magis, dan perekat kekerabatan sosial sehingga berlanjut mengkonsumsinya dari generasi ke generasi.

Dibutuhkan sinkronisasi regulasi pengendalian minuman keras yang akulturatif antara kebijakan melarang produksi dan konsumsi minuman keras dengan budaya tradisional masyarakat dengan menurunkan kadar alkohol pada sopi sehingga tetap menjadi minuman bernilai budaya di masyarakat adat. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved