Opini Pos Kupang

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT

Sopi adalah nama lokal minuman beralkohol hasil dari penguapan cairan dari pohon aren atau lontar yang produksi oleh masyarakat di NTT

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT
POS KUPANG/HERMINA PELLO
ilustrasi 

Masyarakat adat di NTT menjadikan minuman sopi sebagai alat perekat kekerabatan dalam berbagai urusan adat. Pada setiap momen acara yang telah terstruktur menurut jenis acara adat yang diwariskan oleh nenek moyang, minuman Sopi disuguhkan kepada peserta acara sampai mereka mabuk.

Selama acara adat berlangsung peserta acara menyanyi lagu-lagu adat, menari, disertai bunyi-bunyian gong dan gendang. Di Manggarai, minuman sopi juga bernilai magis. Sebelum doa adat diucapkan oleh juru torok, leluhur mereka disuguhkan minuman sopi dalam gelas yang disediakan sebanyak jumlah lelulur yang menjadi perantara doa mereka kepada Mori Keraeng (Pencipta Langit dan Bumi menurut kepercayaan orang Manggarai).

Perekat Sosial

Orang muda NTT telah mengenal sopi sebagai minuman keras sejak Sekolah Dasar. Mereka mengenal minuman sopi diajarkan oleh orang tua ketika diajak mengikuti acara-acara adat. Kebiasaan minum sopi sejak masa kecil menjadikan minuman Sopi sebagai perekat kekerabatan mereka di masa muda.

Perilaku minum sopi secara bersama-sama telah menjadi kebiasaan orang muda di NTT. Mereka telah mengenal dan mengkonsumsi sopi sejak usia 15-21 tahun. Ketika mereka berkumpul, jumlah sopi yang diminum berkisar antara 2-6 botol, tergantung banyaknya orang dan uang hasil patungan. Frekuensi minum biasanya 2-3 kali dalam seminggu tergantung acara pesta.

Konsumsi minuman Sopi berkaitan dengan hubungan sosial antar sesama remaja serta motif sosial; mengikuti teman sebaya, tekanan teman sebaya untuk merayakan kebahagiaan bersama. Para remaja yang meneguh minuman sopi akan merasakan peningkatan mood, kenaikan tingkat energi, akan lebih bersemangat, serta lebih percaya diri dalam hal bicara dan siap untuk melakukan sesuatu tindakan.

Simpulan

Minuman sopi termasuk alkohol yang mengandung etanol (C2H5OH) dengan kadar tinggi merusak metabolisme tubuh manusia terutama hepar. Konsumsi alkohol berlebihan menghasilkan lesi hepatik yang luas seperti steatosis berkembang menjadi steatohepatitis yakni kerusakan inflamasi hepar yang lebih parah.

Untuk mencegahnya pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pengendalian dan pengawasan terhadap produk minuman keras. Namun, aturan itu tidak efektif diberlakukan bagi produsen minuman tradisional sopi dengan berbagai alasan; minuman sopi memiliki atribut nilai ekonomi, budaya, magis, dan perekat kekerabatan sosial sehingga berlanjut mengkonsumsinya dari generasi ke generasi.

Dibutuhkan sinkronisasi regulasi pengendalian minuman keras yang akulturatif antara kebijakan melarang produksi dan konsumsi minuman keras dengan budaya tradisional masyarakat dengan menurunkan kadar alkohol pada sopi sehingga tetap menjadi minuman bernilai budaya di masyarakat adat. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved