Opini Pos Kupang

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT

Sopi adalah nama lokal minuman beralkohol hasil dari penguapan cairan dari pohon aren atau lontar yang produksi oleh masyarakat di NTT

Sopi: Antara Kebijakan vs Budaya Masyarakat NTT
POS KUPANG/HERMINA PELLO
ilustrasi 

Dalam perkembangannya, sopi yang disuling dari arak pohon aren atau lontar semakin marak diproduksi masyarakat di pedesaan di NTT tanpa pengawasan dari aparatur berwenang.

Produksi sopi sebagai minuman tradisional semakin meningkat dari waktu ke waktu searah dengan tingginya permintaan sopi dari konsumen baik untuk kebutuhan acara adat maupun acara keagamaan tanpa mempertimbangkan dampak konsumsi sopi secara berlebiham terhadap kesehatan manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan penyalahgunaan alkohol menewaskan lebih banyak orang dibandingkan dengan kematian karena menderita AIDS, TBC, dan kejahatan dengan kekerasan. WHO memperkirakan sekitar 3,3 juta orang tewas pada tahun 2012 berhubungan dengan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Konsumsi alkohol yang berlebihan meningkatkan risiko timbulnya lebih dari 200 penyakit, termasuk siroris hati, tuberkulosis, dan beberapa jenis kanker. Konsumsi alkohol yang tidak bertanggung jawab merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan dan tindak kekerasan.

Badan Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) mengungkapkan penemuan terbarunya, semakin banyak kematian terjadi pada orang yang kecanduan alkohol. PHE menemukan kenaikan 1 % kematian terkait minum alkohol. Tahun 2013 sebanyak 22.779 orang, tahun 2014 meningkat menjadi 22.967 orang.

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2007 melaporkan jumlah remaja pengonsumsi minuman keras di Indonesia sebesar 4,9%, dan berdasarkan riset Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM), jumlah remaja pengonsumsi miras melonjak drastis menyentuh angka 23% dari total jumlah remaja Indonesia yang saat ini berjumlah 63 juta jiwa.

Nilai Ekonomis

Minuman sopi diproduksi di beberapa tempat memiliki nilai ekonomi sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga. Seorang produsen minuman sopi di Manggarai rata-rata bisa memproduksi sopi sebanyak 5 sampai 10 liter sehari. Harga per liter Rp 75.000.

Dengan penjualan sopi meraup pendapatan antara Rp 375.000-Rp 750.000 per hari. Dengan pendapatan sebesar itu, penjual sopi dapat membangun rumah, membeli peralatan rumah tangga, membeli sepeda motor, dan membiayai dua anaknya sampai perguruan tinggi.

Nilai Budaya

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved