Berita Travel

Menembus Kabut dan Hujan di Akhir Tahun, Indahnya Mencari Kedamaian di Lembah Fulan Fehan

Tujuannya hanya satu melestarikan dan mempromosikan Fulan Fehan guna mendatangkan wisatawan.

Menembus Kabut dan Hujan di Akhir Tahun, Indahnya Mencari Kedamaian di Lembah Fulan Fehan
Foto Agung Suri untuk Pos Kupang,Com
Agung Suri (tengah) saat berada di Lembah Fulan Fehan, (30/12/2018) 

POS- KUPANG.COM--MINGGU pagi, tepatnya 30 Desember 2018, tinggal sehari jarum jam akan menggenapi satu tahun 2018. Sekelompok anak muda, mereka menggunakan kendaraan roda dua menyusuri jalan menuju lembah Fulan Fehan yang terletak di bawah kaki Gunung Lakaan. Fulan Fehan, merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Belu.

Destinasi wisata milik Pemda Kabupaten Belu ini mulai mencuat dua  tahun terakhir. Dibawah kepemimpinan Bupati Belu Wily Lay, Festival budaya pun digelar disana. Sebagian masyarakat di kerahkan untuk berkunjung ke Fulah Fehan. Tujuannya hanya satu melestarikan dan mempromosikan Fulan Fehan  guna mendatangkan  wisatawan.

Lembah Fulan Fehan yang jarak tempuh 26 Km dari Kota Atambua itu bisa dicapai dalam kurun waktu satu jam lebih. Disana, para pengunjung akan menyaksikan luasnya sabana membentang. Lembah yang berada di Desa Dirung, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyimpan banyak keindahan alam.

Prediksi Cuaca Aktual Hari Ini din Penerbangan di Bandara El Tari Kupang

Waspada! Potensi Gelombang Tinggi di Laut Sawu dan Perairan NTT Bagian Selatan Hingga Barat

Ribuan tanaman kaktus tumbuh liar, diiringan ringkikan kuda yang bebas menjelajahi lembah itu. Moment yang sangat indah untuk didatangi. Para pengunjung tak akan jenuh melepas bidikan kamera saat berada di lembah Fulan Fehan. 

Agung Suri (tengah) saat berada di Lembah Fulan Fehan, (30/12/2018)
Agung Suri (tengah) saat berada di Lembah Fulan Fehan, (30/12/2018) (Foto Agung Suri untuk Pos Kupang,Com)

Mata para pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan indah tanaman kaktus dan kuda yang bebas berkeliaran. Ada pesona lain yang bisa dinikmati yakni Benteng Ranu Hitu atau benteng lapis tujuh di puncak Bukit Makes. 

Agung Suri bersama Neny Malioy
Agung Suri bersama Neny Malioy (Foto Agung Suri untuk Pos Kupang,Com)

Ada juga gunung Lakaan yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi. Ada juga bukit Batu Maedemu di Desa Maudemu. Di bukit ini, para pengunjung bisa menyaksikan peninggalan bersejarah berupa kuburan bangsa Melus.

Saat berada di lembah Fulan Fehan
Saat berada di lembah Fulan Fehan (Foto Agung Suri untuk Pos Kupang,Com)

Jika pengunjung lelah berada di tempat ini, bisa juga menyelusuri bagian Timur lembah ini. Disana, akan ditemui situs bersejarah Kikit Gewen yang Berupa kuburan tua yang sangat sakral.

Viligius Saunoah (kiri) saat berada di Fulan Fehan
Viligius Saunoah (kiri) saat berada di Fulan Fehan (Foto Agung Suri untuk Pos Kupang,Com)

Kunjungan bisa berakhir dengan mandi di air terjun. Ada dua pilihan untuk melepas lelah sambil membersihkan diri. Bisa  di Air Terjun Sihata Mauhale di antara Desa Aitoun dan Desa dan  Air Terjun Lesu Til di Weluli, Ibu Kota Kecamatan Lamaknen. Saat berada di lembah Fulan Fehan, suhu udara sekitar 21 - 30 derajat celcius.

Diantara sejumlah pengunjung yang pernah mendatangi lembah Fulan Fehan, sekelompok anak muda memilih menutup akhir tahun disana. Mereka menyimpan satu tujuan, ingin melihat keindahan alam lembah Fulan Fehan. Sebut saja  nama anak muda itu, Agung Suri, Ais Suri, Adi Manek, Idus Manek, Viligius Saunoah, Dedox dan Neny Malioy

Tidak banyak perlengkapan yang mereka bawa. Tenda, sebagai tempat berteduh saat terjadi hujan. Seperangkat alat masak air lengkap, kopi, teh, gula dan cemilan secukupnya. 

Halaman
12
Penulis: Rosalina Woso
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved