Berita Kabupaten Ende

Anak Muda NTT Diminta Rajin Membaca

Peneliti sastra asal NTT dari Universitas Flores. Ende, Yohanes Sehandi mengatakan bahwa pihaknya memberikan apresiasi kepada anak-anak muda NTT yang

Anak Muda NTT Diminta Rajin Membaca
Pos Kupang.com/Romualdus Pius
Yan Sehandi

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE---Peneliti sastra asal NTT dari Universitas Flores. Ende, Yohanes Sehandi mengatakan bahwa pihaknya memberikan apresiasi kepada anak-anak muda NTT yang kini telah berkiprah dengan sederatan pretasi baik di tingkat nasioanal dan regional khususnya dalam bidang sastra.

Namun demikian ujar Yan kepada Pos Kupang.Com, Sabtu (15/12/2018) di Ende mengatakan bahwa dengan adanya prestasi tersebut hendaknya anak muda jangan cepat merasa cepat puas dengan kondisi yang ada namun harus terus mengasah diri sehingga kemampuan atau prestasi yang ada dapat terus ditingkatkan ke level yang lebih tinggi hingga ke mancanegara.

Menurut Yan Sehandi cara agar anak-anak NTT bisa mengenal dan lebih mencintai sastra adalah hendaknya semenjak dini diperkenalkan dengan buku-buku bacaan terutama buku sastra.

Budaya membaca hendaknya harus terus dibiasakan mulai dari rumah dan juga sekolah bahkan khususnya di sekolah kebiasaan membaca harus dimulai minimal 15 menit sebelum pelajaran sekolah dimulai.

Begini Kiat Pramugari Cantik Menghadapi Rayuan Maut Penumpang Genit

Pembunuhan Berlatar Asmara! iajak Bertemu Lewat Pesan SMS Korban Meregang Nyawa

Dunia literasi hendaknya harus menjadi kebiasaan yang terbawa semenjak dini sehingga dengan demikian kecintaan akan buku-buku bacaan sudah menjadi hal yang biasa didalam diri anak-anak NTT.

Yan mengatakan,  saat ini sastra NTT tumbuh menuju ke iklim yang positif yang ditandai dengan semakin banyaknya anak-anak muda yang berprestasi di bidang sastra baik di tingkat lokal maupun nasional.

Yan menjelaskan, sastra NTT lahir di tahun 1955 dengan perintisnya, Gerson Poyk yang membuat karya sastra berupa puisi dengan judul sebelah rumah yang dimuat di majalah mingguan Minbar Indonesia edisi 38 tanggal 17 September 1955.

Yan mengatakan,  pengembangan sastra di NTT juga tidak terlepas dari peran pemerintah maka untuk pembangunan karakter anak bangsa di Provinsi NTT pihaknya menawaskan sejumlah tawaran kepada Pemprov NTT untuk pengembangannya yakni,

Pertama, gencarkan lagi program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang kini telah berlangsung. Program GLS harus dikendalikan langsung oleh Dinas Pnedidikan dan Kebudayaan Provinsi dan Kabupaten/kota di NTT.

Kedua, pemerintah provinsi dan Kabupaten/Kota di NTT menyiapkan anggaran untuk membeli buku-buku sastra karya para sastrawan NTTdan di bagikan secara gratis ke semua perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah di seluruh wilayah Provinsi NTT.

Ketiga, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di NTT menyelenggarakan berbagai kegiatan festifal sastra, perlombaan penulisan karya sastra, lomba pementasan drama, atau lomba meresensi buku-buku sastra karya para sastrawan NTT.

Keempat, pemerintah provinsi dan Kabupaten/Kota di NTT menyiapkan anggaran untuk mengubah sastra NTT ke layar lebar, misalnya novel, cerita pendek, atau cerita rakyat, dirubah dalam bentuk film, sinetron, dan drama.

Perlu ditiru langkah Pemprov Bangka Belitung beberapa tahun lalu yang menyiapkan anggaran menggkat cerita novel laskar pelangi (2005) karya Andrea Hirata menjadi film Laskar Pelangi yang sukses meledak di pasaran.

Pulau Belitung yang menjadi latar novel akhirnya menjadi terkenal dan mengundang banyak wisatawan berkunjung. Kini Belitung menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia,ujar Yan. (*)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved