Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Edisi Minggu Ini, Kepoin Yuk!

Puisi-Puisi Ki Deni : Penculas dalam Jejaring Senja ditendang gaduhnya malam

Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
ils
bukit babel 

Puisi-Puisi Ki Deni
Penculas dalam Jejaring

Senja ditendang gaduhnya malam
Tubuh imajinasi ditampar tangan-tangan liar itu
Andai saja seonggok punggung ini bersayap satu
tiada apa-apa darahku?
Tuk terbangkan barisan kata terpenjara waktu
Berjaga saat dikau bertidur dengan lelap
rahasiakanlah penculas ini pada jejaring setia itu.
Pada tubuh nan baring di dalam jejaring bulan,
Tuk tahbiskan meterai rasa pusaka,
pintu istana telah terpola.

Para Tikus Got Kota

"Harapan kita babak belur, pak!"
Panasnya goresan kumal bongkar satire pagi itu,
Suap menyuap kertas pada mulut para tikus got kota.
Moral terbui dalam cantiknya topeng nafsu.
Dan kita hanya berani bertempur dalam rana utopia.
Isak rintih tiada henti siang ini.
Pada mentari yang tak pernah segan berkidung keadilan seluruh.
Selimuti pemburuh jujur yang tengah berlumur,
Kita bisa apa tuk menyapa bangsa,
Boleh kita berutopia,
Datangnya Tuhan tuk menyapu noda pada tubuh para tikus got kota.

Mamaku: Jembatan Buatan Tuhan

Bunga-bunga api rintih bermekar ria
Takkan layu seusia bumi berziarah.
Tak pernah absen berpatroli ke rana diri,
Menyusu pada lagu-lagu syaduh,
Jiwaku memazmurkan elegi waktu,
mengasah puitisnya hidup,
bergempa tak karuan,
Raut semakin tergambar mendung di siang terik,
Uletnya cinta masih amat belia,
Tiadalah upah pun ijazah balas semua.
(Ki Deni merupakan nama pena dari Melkisedek Deni, Mahasiswa STFK Ledalero).

Puisi-Puisi Maksi Gepa
Jam Pelahap

Jam putih di sudut kamar
Menghitung detak jantung manusia
Setiap detik berdetak
Manusia lenyap dilahap
(Kamar Sunyi, Nenuk)

Misteri Tikus Penipu

Ada matahari tua yang terbenam di bola matamu
Sebelum kedipan fajar yang menipu di bibirmu
Seekor kucing sangat bahagia
Lantaran tikus mati di atas padi
Mereka menguburkan sepatu dan dasinya
Sedang tubuhnya terbenam bersama matahari tua
Yang lenyap dalam kedipan fajar penipuan
(Nenuk, November 2018)

Rindu

Pada pangkal sepi paling senja
Terbersit sepucuk surat rindu
Mungkin itu fajar merdu untukku
Pagi bisu yang dititip oleh ibu :
"Nak, ibu rindu kamu"
Deru yang melahirkan bocah mandul dalam bisu
Menciptakan seru diriku :
"Tuhan, kutitip doa dan rinduku untuk ibu
Melalui sepoi syahdu yang mencumbu biru"
(Nenuk, Oktober 2018. Maxi Gepa adalah seorang alumnus Seminari St. Yoh. Berkhmans-Mataloko. Sekarang berdomisili di Rumah Formasi Novisiat SVD Nenuk).

Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola
Jiwa-jiwa Mudik

Jiwa-jiwa mudik
Hendak kembali pada peristirahatan terang
Bersintal waktu yang tersedia roti dan anggur
Sebab mereka adalah pekalongan pencicip malam yang dalam
Arah pulangpun bersimpang-simpang, geram, meminang langkah.

Jiwa-jiwa mudik
Gelayut dosa di setiap rambut kepala, menjadikan mereka antah antek-antek kelam.
Lalu bangkitlah semesta: ini perintah Tuhan
"Kkamu membutuhkan telaga yang rimbun?"
Tanya para musafir sabana seraya menghormati tanah berbautubuh.

Jiwa-jiwa mudik
Kepulangan mereka adalah kesediaan sujud-sujud merdu
Membumbung naik hingga tahkta kehendak-Nya

Jiwa-jiwa mudik
Pada benturan-benturan kalbu
Mereka telah menuntaskan kepulangan
Hingga mahligai sorak-sorai para malaikat.
(Yogyakarta, November 2018)

Lelaki Pertama
Kepada Pater Ambros Pantola, SVD

Pada dinding bumi yang rimbun bising
Lelaki memungut sepi-sepi yang sakral
Menentengnya sepanjang tapak-tapak liku.
Rapal doa bertalu-talu di tengah pesta para pelancong.
"Tuhan apakah yang harus ku perbuat?"
Seutas Tanya menirukan kata Paulus pada aksara Tuhan
Sembari meneguk anggur yang telah ia curi dari mesbah Tuhan.
Wajah para pelancong beringsut kecut menelan segala lusuhnya
Lalu tawa ria pecah pada lekuk-lekuk jalanan semrawut.
Lelaki pertama
Menaruh beribu cemooh pada tengkulak
Sebagai sum-sum untuk meremehkan perjalanan.
Busana yang ia kenakan ditanggalkannya lalu menyimpannya pada binal
Para pelancong.
Ia mengenakan jubah dari Tuhan mengusik air mata ayah dan ibunya
Yang menangisi ketelanjangan Yesus oleh para serdadu.
Lelaki pertama
Ia telah menuai Kabul-kabul doa di dalam ziarahnya
Kian meretas sabda-sabda Tuhan di negri para pelancong.
(Yogyakarta, September 2018)
(Bruno Rey Pantola adalah Alumni Seminari St. Rafael Oepoi).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved