Tamu Kita

Gestianus Sino : Duta Petani Muda Indonesia 2018

Pemilihan Duta Petani Muda Indonesia 2018 merupakan ajang inspirator muda pertanian untuk mendorong minat generasi muda.

Gestianus Sino : Duta Petani Muda Indonesia 2018
IST
Gestianus Sino 

Apa saja yang dilakukan selama kegiatan grandfinal dan apa yang menjadi kekuatan Anda memenangkan kompetisi ini?
Selama satu minggu di Jakarta, kegiatannya padat. Kami bangun pukul 05.00 WIB, dan mulai dengan olah raga. Pukul 07.00 WIB, minum kopi dan sarapan, dilanjutkan dengan kegiatan teori dalam kelas sampai pukul 12.30 WIB. Setelah makan siang, lanjut lagi dengan materi sampai sore. Materinya juga bervariasi mulai dari lingkungan, sosial, gender, bisnis, hingga pemasaran. Pada hari terakhir, masing-masing peserta mempresentasikan materi yang telah didapatkan dan berbagai hal yang telah dilakukan. Perasaan saya mulai tidak enak ketika didaulat mewakili peserta melakukan talkshow bersama Dirjen Kementerian Desa, BI, Wakil dari Kementerian Pertanian dan Kemneterian Perdagangan. Dan puncaknya saat pengumuman, saya dinyatakan sebagai pemenang Duta Petani Muda Indonesia 2018. Saya tidak menyangka semua ini bisa terjadi. Hal awal yang mengantar saya menjadi duta sebenarnya dari konsep yang sudah dilaksanakan yakni pertanian organik terpadu. Ini tidak bisa bicara bombastik, tapi harus melakukan satu persatu. Misalnya yang saya lakukan adalah mulai dari membongkar batu dan menata kebun agar bisa ditanami. Beda dengan teman-teman dari wilayah lain yang kualitas tanahnya lebih bagus. Kita di Timor ya, mesti bongkar karang dulu baru bisa tanam. Ini butuh waktu hampir dua tahun hingga apik seperti saat ini. Saat ayah datang dari Flores dan melihat saya membongkar karang, ayah ajak saya pulang ke kampung. "Untuk apa kau susah-susah seperti ini. Lahan kita di kampung sangat luas dan tidak ada karang seperti ini. Yang penting kau kuat kerja saja". Lalu saya bicara ke ayah, saya sudah telanjur mencintai tanah ini. Sudah banyak butiran keringat mengalir di atasnya. Biar saya di sini. Di kampung ada adik-adik dan keluarga yang bisa urus. Memang akan lebih mudah kalau pemerintah membantu dengan menggunakan eksavator untuk membongkar dan menata kebun-kebun petani kita di Timor agar bisa dapatkan kualitas tanah yang baik untuk ditanami. Terus kalau kita omong target di Indonesia itu terlalu besar, omong NTT juga mungkin terlalu besar. Kita mesti bisa lakukan di kebun dan rumah kita masing-masing. Kalau dulu kita hanya bicara ketersediaan pangan. Sekarang sudah sampai pada pangan yang sehat. Ini berkaitan dengan input. Bahan-bahan kimia berseliweran di sekitar kita. Apakah itu pupuk kimia, herbisida, dan sebagainya. Ini yang membuat daya tahan dan kualitas hidup kita semakin menurun. Makanya saya konsisten dengan pertanian organik dan saya salah satu dari sedikit pegiat pertanian yang mendapatkan sertifikat organik.

Begini Kiat Mudah Dan Cepat Ubah Voice Note WhatsApp Kamu Jadi Suara Hantu Dan Alien

Siapakah yang paling berperan dalam karier Anda hingga saat ini?
Secara spesial saya ucapkan terima kasih kepada orang tua yang telah meletakkan dasar menjadi petani. Selain itu, Bapak Anton Porat, yang menanamkan konsep pertanian organik dengan sistem "zero waste" dan pola hidup sehat yang dimulai dari pertanian yang sehat. Istri dan anak yang terus memberi dukungan dan para jejaring dan mitra seperti alumni Civitas Fakultas Pertanian Undana, kelompok arisan Mego dan Kolimaku, Bank Indonesia, Kementerian Desa, Yayasan Tananua, media massa di Kota Kupang, serta para sahabat yang selalu memberi motivasi.

Sebagai Duta Petani Muda, apa yang akan dilakukan dan apa pesan Anda untuk generasi muda Indonesia khususnya NTT?
Banyak pekerjaan yang dilakukan. Kita mesti terus berinovasi. Dalam waktu dekat ini saya akan ke Australia untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Ini difasilitasi oleh salah satu sponsor Duta Petani Muda. Kita juga terus memotivasi generasi muda kita bahwa menjadi petani itu seksi dan sehat. Intinya ada tekad dan kemauan. Saat ini kita memasuki masa kelimpahan tenaga kerja. Sayangnya hanya sedikit saja yang mau menjadi petani. Lebih banyak sarjana yang menenteng ijasah untuk melamar di kantor-kantor. Dunia pertanian kita bakal terancam kalau tidak ada lagi yang mau menjadi petani. Saya punya mimpi bisa menghimpun dan memberdayakan anak-anak muda untuk berwirausaha dalam bidang pertanian organik. Generasi milenial juga harus mencintai dan mencium aroma tanah serta semua yang dihasilkan dari tanah. Setiap tahun ada dokter muda, ada polisi muda, ada pegawai pensiun diganti pegawai baru, tapi tidak ada petani muda. Petani tua hilang satu persatu, tetapi petani muda tidak ada yang datang menggantikan. Saya ajak generasi muda bahwa menjadi petani itu menjanjikan, bisa menghasilkan uang dan membuat kita sehat. (*)

Erick Thohir Mengaku Ingin Belajar dari Sandiaga Uno, Apa Ya?

Biodata :

Nama : Gestianus Sino, SIP
Lahir : Detukop-Sikka, 22 April 1983
Istri : Kristiani Paskalista Pati
Anak : Laurent Benellyne Sino (3 tahun)
Alamat Rumah : Perumahan Pondok Indah Matani Blok S, No.7, Penfui Timur, Kabupaten Kupang.
Alamat Usaha : Jalan Nomelaktosi, Desa Penfui Timur, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Pendidikan :
1. SD Inpres Detukopi tahun 1998
2. SMPN Maumere tahun 2000
3. SMUK Gabriel tahun 2003
4. Fakultas Pertanian Nusa Cendana Kupang tahun 2011

Jenis Usaha : Pertanian Organik Terpadu

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved