Berita Kabupaten Belu

Pater Kristo Berhasil Menghijaukan Bukit Laktutus

Pastor Paroki Laktutus, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM mendapat Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup dari Pemerint

Pater Kristo Berhasil Menghijaukan Bukit Laktutus
FOTO DOKUMEN/PATER YOHANES KRISTOFORUS TARA
Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM mendapat Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup dari Pemerintah Kabupaten Belu tahun 2018.

 Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM | ATAMBUA---Pastor Paroki Laktutus, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM mendapat Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup dari Pemerintah Kabupaten Belu tahun 2018.

Pater Kristo, demikian ia disapa dinilai berhasil melestarikan lingkungan di wilayah tugasnya dengan menanam aneka pohon di sejumlah lokasi seperti di bukit Laktutus, lahan paroki dan areal sekitar gereja. Gerakan melestarikan lingkungan ini dimulai sejak tahun 2014.

Selain gerakan menanam pohon, Pater kelahiran Wangka, Kabupaten Ngada ini juga mengajak masyarakat mengolah lahan yang masih dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Lahan tersebut digarap dan ditanami sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga untuk dijual.

Wagub NTT! PSN Ngada di Liga 3 Mewakili NTT

Atas jasa yang luar biasa itu, Pemerintah Kabupaten Belu memberikan penghargaan Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup. Penghargaan ini diserahkan Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan di Kantor Bank Sampah Ai’ Kamelin, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu, Selasa (27/11/2018).

Ditemui di Atambua, Rabu (5/12/2018), Pater Kristo menuturkan,
ia bersama umat melakukan konservasi lahan terutama lahan-lahan kritis dan konservasi air dengan menanam pohon. Pohon yang ditanam itu bermacam-macam, baik pohon buah-buahan, pohon pelindung tanah dan tanaman serta pohon penghasil air tanah. Pohon yang ditanam juga selain berfungsi konservasi lahan juga berfungsi ekonomis.

"Kita tanam pohon buah-buahan, terus tanam pohon mahoni dan johar untuk konservasi lahan juga berfungi ekonomis. Pohon sengon untuk pelindung tanaman kopi dan pohon jambu air hutan untuk konservasi air," jelas Pater Kristo

Fransiskan tabhisan tahun 2008 ini terus mengajak semua elemen masyarakat untuk melestarikan lingkungan dengan cara menanam pohon karena pohon itu mesti dilihat sebagai sumber kehidupan.

"Kita mesti melihat setiap pohon itu sebagai pohon kehidupan. Pohon ini mesti dilihat sampai ke air. Tanpa pohon, air tidak akan ada. Karena itu, dua hal ini menjadi kosentrasi kami," kata putra dari pasangan Bernabas Wada dan Yustina Dalan ini.

Lulusan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma ini mengatakan, mencintai lingkungan hidup sejatinya menjadi bagian dari kesadaran hidup
yang mesti sampai pada tanggungjawab untuk menjaga dan memelihara lingkungkan hidup.

Ada tiga hal yang memotivasi Pater Kristo untuk melakukan gerakan tanam pohon. Pertama, kesadaran genesis. Sejak awal mula setiap pribadi diberi tanggung jawab untuk hidup bersama dengan makluk lain atau entitas-entitas yang lain. Kesadaran ini mesti sampai pada tanggungjawab untuk menjaga dan memelihara lingkungkan hidup.

Kedua, kesadaran global. Semua orang di dunia menyadari bahwa dunia sedang mengalami suatu krisis lingkungan hidup atau krisis ekologi. Jika krisis ini dibiarkan terus maka kita akan berhadapan dengan suatu kerusakan masif lingkungan hidup. Kondisi ini akan berdampak pada keberlanjutan hidup, tidak hanya manusia tetapi juga mahluk-mahluk lainnya.

Kesadaran ini melahirkan sebuah tanggung jawab bagi siapa saja untuk sama-sama dan terus menerus bekerja menjaga dan merawat lingkungan ini agar dunia atau alam ini tetap menjadi tempat yang nyaman bagi sebuah kehidupan.

Ketiga, kesadaran spritual. Kesadaran yang diberi mandat oleh injil dan gereja bahwa alam ini tidak begitu saja diserahkan pada cara kerja ilmu pengetahuan dan teknologi yang cenderung merusak alam.

Gereja memiliki tanggung jawab besar demi menyelematkan alam semesta. Kesadaran ini tidak terbatas pada satu agama tetapi semua agama
untuk sama-sama membangun koalisi menjaga dan merawat lingkungan hidup. Tujuaanya, agar kualitas lingkungan yang baik tidak hanya dirasakan oleh generasi saat ini tetapi juga oleh anak dan cucu. (*).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Ferry Ndoen
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved