Berita NTT Terkini

Revolusi Hijau Kelor di Nusa Tenggara Timur

Dinas Pertanian NTT berkomitmen menjadikan kelor sebagai komoditi unggulan lokal dalam mengatasi masalah gizi (malnutrisi) dan stunting.

POS-KUPANG.COM/Servatinus Mammilianus
Penyerahan bibit kelor kepada Bupati Manggarai Barat, Bupati Manggarai dan Plt Bupati Manggarai Timur (tak kelihatan di gambar), di Labuan Bajo, Jumat (30/11/2018). 

Strategi operasional Dinas Pertanian Provinsi NTT dalam pengembangan budidaya kelor  dilaksanakan melalui perluasan areal tanam, peningkatan mutu intensifikasi, pengamanan produksi (proteksi), peningkatan nilai tambah dan daya saing (diversifikasi), pasca panen  dan pemasaran, penguatan kelembagaan dan pembiayaan usaha tani.

 Klasifikasi Pengembangan

Menurut Yohanes Tay,  klasifikasi pengembangannya  secara teknis dilakukan dengan dua cluster, yaitu cluster daun  dikembangkan secara khusus untuk panen daun sesuai kebutuhan industri,  dan cluster biji  dilakukan dalam rangka  panen biji untuk kebutuhan industri dan panen daun segarnya  untuk kebutuhan pangan dan gizi keluarga yang dikembangkan secara Alley Cropping  atau tanaman lorong.

Dinas Pertanian NTT Butuh Rp 6 Miliar Untuk Kembangkan Jagung

Sementara untuk mendapatkan  produk  berkualitas, Ir. Yohanes Tay menjelaskan, untuk pengembangan kelor  dilakukan dengan dua pola. Pola inti adalah pengembangan kelor organik untuk kebutuhan industri.  Rangkaian kegiatannya  diawali dengan proses identidfikasi  kelayakan  lahan kelor organik   melibatkan  perusahaan atau  investor  dengan   mengajak minimal satu perusahaan pada setiap kawasan seluas  40 ‑50 Ha dengan jarak tanam 1m  x 1 m  untuk sistem monokultur   atau  populasi tanaman 10.000 pohon/ha. 

Sementara  untuk  pola plasma,  pengembangannya  dilaksanakan oleh petani /masyarakat atas pendampingan perusahaan /investor  dengan  pemerintah, dengan sistem yang sama monokultur.

Untuk peningkatan  gizi masyarakat dilakukan dengan pola tanam lorong  (Alley Cropping) dengan  jarak tanam 10 m x 10 m  dengan  populasi 100 pohon/ha. Tanaman kelor  dalam alur penguat  teras  dan  tanaman lainnya sebagai tanaman sela.

Target 40 Ha Tahun 2019

 Yohanes Tay menjelaskan, dalam mewujudkan kelor sebagai komoditi unggulan lokal, Dinas Pertanian Provinsi NTT  menargetkan 40 Ha untuk dikembangkan tahun 2019.  Dari  target  tersebut  telah  dikondisikan lahan seluas  8 Ha di Kabupaten Kupang, sebagai model atau  percontohan pengembangan perdana kelor  2018. 

Teknis pengembangannya  terbagi dalam   dua  pola,  yaitu (1)  pola  monokultur seluas  5 Ha   berlokasi di Desa Oeteta dan Pitai; (2) pola pengembangan  Alley Cropping  atau tanaman lorong  seluas 3 Ha  di wilayah  Desa Oefafi dan  Oeteta. 

Dalam  percepatan memasyarakatkan  kelor, Dinas Pertanian Provinsi NTT  telah menyediakan 60 ribu anakan kelor  dalam persemaian polybag  siap tanam.  Sementara  dari jumlah anakan  kelor siap tanam tersebut, telah melayani permintaan berbagai kalangan  masyarakat  sebanyak  20 ribu polybag anakan kelor siap tanam  sejak  minggu ke 3  Oktober 2018.  

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved