Berita Kabupaten Sikka

Seharusnya Ibu Hamil di Sikka Periksa HIV

Tertularnya HIV kepada bayi dan anak–anak di Sikka, seharusnya ibu hamil (bumil) memeriksa HIV, sifilis dan penyakit hepatitis B.

Seharusnya Ibu   Hamil di  Sikka Periksa   HIV
Odisha Sun Times
pita merah, lambang HIV AIDS 

Laporan   Reporter POS KUPANG.COM, Euginius  Mo’a

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--Tertularnya  HIV kepada  bayi dan anak–anak  di  Sikka, seharusnya ibu  hamil (bumil)  memeriksa   HIV,  sifilis dan  penyakit hepatitis  B.

“Pemerintah punya program triple eliminasi. HIV, sifilis dan hepatitis B. Semua bumil harus periksa   HIV, sifilis hep B. Kalau positif bisa dilakukan upaya pencegahan secara gratis,” kata   pegiat  HIV/Aids  Sikka, Pulau  Flores,  Propinsi NTT,  dr. Asep  Purnama, S.Pd, kepada POS-KUPANG.COM,  Sabtu  (1/12/2018).

 Ini Dia Kemewahan Kapal Wisata ASDP KMP Komodo yang Layani Obyek Wisata di Taman Nasional

Germanus Goleng: BLK Wilayah Flores Dibangun di Maumere

Dinas PU Sikka Siagakan Louder di Kali Dagemage

KSP AMT Buka Lagi TPK di Pota Manggarai Timur. Ini Tujuannya !

Duh! Gelombang Setinggi 2,5 Meter dan Hujan Disertai Petir di Beberapa Daerah di NTT Hari Ini

Dikatakannya, selama bulan  Januari sampai Desember 2018 ditemukan 71 kasus positif HIV sebagian besar berasal dari Sikka dan sebagian kecil dari kabupaten tetangga di Flores.    Dari  71 kasus baru HIV positif  itu, delapan diantaranya anak dan 63  orang dewasa.

Menurut Asep,  kasus anak    terjangkit HIV kemungkinan tertular dari ibunya.  Padahal,kalau ibunya dites dan tahu status HIV positif  sejak awal  maka bisa dilakukan upaya pencegahan agar bayi tidak tertular

“Secara umum, kita semua harus berani tes HIV. Apalagi yang pernah melakukan perilaku risiko tinggi. Positif (HIV) atau negatif, sebaiknya kita tahu,” kata Asep.

Sesuai   tema  hari  Aids  2018,   “Saya  berani  (test HIV), Saya sehat.Tahu  status  saya lebih  baik.”   Menurut Asep, dengan  mengetahui  status, kalau positif bisa diobati dan diupayakan supaya tidak menular kepada orang lain termasuk pasangan dan anak.

Sedangkan kalau negatif, diedukasi untuk menghentikan prilaku resiko tinggi.

Menurut  Asep,  belum  tumbuh  kesadaran warga  masyarakat  terutama   kelompok   beresiko   test  HIV diduga  karena takut test. Kalau positif  akan distigma diskriminasi masyarakat.(*)

 

 
 

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved