Berita Cerpen

Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf

"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi."

Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf
ils
Cerpen Menunggu Hadirnya Maaf 

"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi. Arungilah kehidupanmu dan janganlah memikirkan kehidupan bunda. Cinta bunda kepadamu adalah kebencian yang menunggu hadirnya kata maaf dalam kehidupan bunda. Andaikan kehadiran kata maaf muncul dalam waktu dekat, mungkin kau bisa memeluk bunda lagi, tetapi kalau kata maaf tak pernah hadir dalam kehidupan bunda kau boleh kembali saat usia bunda sedang tersisa satu hembusan." Kata bunda sembari meninggalkan aku bersama heningnya gubuk tua di malam itu.

Baca: Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Arti dan Maknanya

Kutatap langkah bunda dengan sepasang mata bimbang. Kulihat gubuk tua ini lagi tak sekadar gubuk tetapi film pendek dengan pemeran kedua yang telah tiada.
Semoga bunda tak sekejam ini. Dalam keheningan malam itu aku berseru entah kepada siapa suaraku akan berlabuh dan dalam hati kecil yang sedang berdarah kutujukan seutas kata," Tuhan, ini aku. Aku menanti setetas anggur merembes jatuh pada cawan-Mu." (Erwin Pitang, tinggal di Vocationary)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved