Berita Regional Terkini

Cara Pelajar Menyemangati Pelari di Borobudur Marathon 2018

Kegiatan pembakar semangat bagi para pelari Borobudur Marathon 2018 berlangsung di sepanjang lintasan lari.

Cara Pelajar Menyemangati Pelari di Borobudur Marathon 2018
KOMPAS.com/ DANI J
Siswa SD Tanjungsari, Desa Tanjungsari di Kecamata Borobudur, sengaja menyambut pelari Half Marathon dengan cheering dan tari yang serba lucu menggemaskan di lintasan sehabis tanjakan. Kata Bu Guru Sri Rohyati, cheering di lokasi itu biar bisa membangkitman semangat setelah pelari agak kesulitan di tanjakan. 

POS-KUPANG.COM | MAGELANG - Kegiatan pembakar semangat bagi para pelari Borobudur Marathon 2018 berlangsung di sepanjang lintasan lari.

Warga dan pelajar membakar semangat ribuan pelari itu dengan caranya masing-masing. Seperti halnya para pelajar SD Tanjungsari di Desa Tanjungsari, Kecamatan Borobudur.

Mereka menyoraki para pelari ketika melintas di gang-gang sempit depan sekolah mereka.

Baca: Para Pelari Kenya Rajai Kategori Half Marathon dan 10K Borobudur Marathon 2018

Sekolah mengerahkan 138 pelajarnya, berbaris di kanan kiri jalan, memegang balon tepuk, dan menyoraki tiap pelari yang lewat. Mereka meneriakkan "semangat ... semangat".

Selain sorak sorai, mereka mempertontonkan tari kreasi baru dengan nama Senyum Indonesiaku. Tarian itu atraksi yang bisa memukau orang yang menonton.

Baca: Medali Borobudur Marathon 2018 Jadi Favorit Swafoto Pelari

Kostum anak-anak penari itu dibuat dengan perpaduan tutup kepala berbulu dan baju yang dikombinasi jarit batik. Kebetulan, jalan di mana anak-anak itu memberi sorak sorai berada setelah sebuah tanjakan landai lintasan Half Marathon pada Kilometer 8.

"Nah itu (pelari), mereka senyum menyaksikan anak-anak beratraksi. Di sini posisi yang baik setelah mereka ambil tanjakan," kata Sri Rohyati, guru SD Tanjungsari.

Hampir antara 1-3 kilometer lintasan terdapat warga maupun pelajar yang mempertontonkan keahlian seperti SD Tanjungsari. Beragam cara mereka lakukan.

Bila pelajar, mereka mempertontonkan kesenian yang memang mereka pelajari di sekolah sebagai kegiatan ekstra. Ada juga yang menggelar gamelanan, drumband, tari tradisional, dan kesenian khas seperti jathilan atau kuda lumping di SD Wanurejo di Dusun Tingal Kulon, Desa Wanurejo.

"Karena andalan kami adalah jathilan. Kesenian ini membawa sekolah sampai ke kejuaraan di mana-mana," kata Endang Susilowati, Kepala Sekolah SD Wanurejo.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved