Berita Manggarai Barat Terkini

Suster Yosephina Berharap Kebijakan Moratorium TKI Diterapkan Sampai ke Desa-desa

Suster Maria Yosephina Pahlawati, SSpS, memberikan apresiasi atas kebijakan moratorium tenaga kerja oleh Gubernur NTT.

Suster Yosephina Berharap Kebijakan Moratorium TKI Diterapkan Sampai ke Desa-desa
POS-KUPANG.COM/Servatinus Mammilianus
Suster Maria Yosephina Pahlawati, SSps 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Servatinus Mammilianus

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Salah satu pegiat misi kemanusiaan isu-isu trafficking di Labuan Bajo, Suster Maria Yosephina Pahlawati, SSpS, memberikan apresiasi atas kebijakan moratorium tenaga kerja oleh Gubernur NTT.

Dia ditemui di Selter Labuan Bajo, Kamis (15/11/2018) malam, ia menilai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sudah mulai terlihat bekerja sepadan, untuk menyelesaikan persoalan tenaga kerja yang selama ini selalu terjadi.

Namun dia berharap agar kebijakan tersebut harus didukung oleh komitmen dan kerja keras dari semua aparat pemerintah, khususnya di tingkat bawah agar penerapannya dilakukan secara serius dan bisa menembus sampai ke desa-desa di NTT.

Baca: Tahun 2018, BLK NTT Cetak 400 Tenaga Kerja Terampil

"Kebijakan moratorium itu patut kita apresiasi. Baru kali ini ada gubernur yang dengan tegas berani mengambil keputusan moratorium tenaga kerja. Saya salut dengan itu. Wakil gubernur juga terlihat seiring dan sejalan dengan gubernur. Tetapi yang ditunggu-tunggu sekarang, bagaimana aplikasinya di lapangan," tutur Suster Yosephina yang hampir setiap saat disibukan dengan penyelesaian persoalan tenaga kerja.

Baca: Hari Kelima Pelaksanaan Tes CPNS di TTU, Baru 14 Peserta yang Capai Passing Grade

Menurutnya, hal lain yang perlu dipikirkan bersama adalah bagaimana menyiapkan lapangan pekerjaan di NTT agar tenaga kerja kita tidak tergiur bekerja ke luar.

Selain menyiapkan lapangan pekerjaan, bagaimana para tenaga kerja kita bisa mendapatkan upah yang seimbang dengan pekerjaannya atau sesuai UMR.

"Saat ini masih banyak pekerja di NTT, khususnya karyawan di toko-toko yang upahnya tidak seimbang dengan beratnya pekerjaan yang mereka lakukan," kata Suster Yosephina.

Menurutnya, tenaga kerja kita harus terus dilatih agar memiliki keahlian atau keterampilan.
Bukan hanya untuk memenuhi permintaan kebutuhan tenaga kerja di NTT sendiri tetapi untuk bisa membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri, seperti membuka usaha kecil.

Dengan demikian, kata dia, jiwa wirausaha harus selalu didorong bersama-sama.
"Salah satunya BLK harus betul-betul diefektifkan. Di semua kabupaten/kota yang ada di NTT, jangan sampai BLK itu hanya gedungnya saja yang ada tetapi kegiatannya tidak ada," kata Suster Yosephina.

Menurutnya, kebijakan moratorium harus perlu mendapat dukungan dari semua komponen terkait demi kebaikan masa depan tenaga kerja kita. (*)

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved