Berita Kota Kupang Terkini

Perdagangan Orang dan KDRT Marak di NTT, Mesakh Dethan: Gereja Harus Memberi Solusi

Gereja juga turut memiliki andil untuk memecahkan masalah perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sangat tinggi di NTT

Perdagangan Orang dan KDRT Marak di NTT, Mesakh Dethan: Gereja Harus Memberi Solusi
ISTIMEWA
Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Pdt. Dr. Mesakh Dethan seusai khotbah pada ibadah syukur HUT ke-93 Jemaat Koinonia, Kuanino Kupang, Rabu (7/11/2018). 

Gereja juga turut memiliki andil untuk memecahkan masalah perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sangat tinggi di NTT

POS-KUPANG.COM | KUPANG - "Perayaan HUT ke-93 Jemaat Koinonia yang jatuh pada tanggal 7 November 2018 merupakan kesempatan untuk berefleksi apakah Jemaat Koinonia telah sungguh-sungguh menjadi jemaat yang missioner. Kemissioneran Jemaat Koinonia dapat diukur jika gereja juga turut memiliki andil untuk memecahkan masalah perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sangat tinggi di NTT. Gereja berhenti menjadi gereja apabila buta dan tuli terhadap masalah masalah kemanusiaan yang terjadi di depan mata."
Demikian cuplikan khotbah Pdt. Dr. Mesakh Dethan pada ibadah syukur HUT ke-93 Jemaat Koinonia Kuanino, Klasis Kota Kupang, Rabu (7 /11/2018).

Di hadapan ribuan jemaat yang memadati Lapangan Parkir Gereja Koinonia, Mesakh Dethan yang juga Dosen Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, ini mengatakan, jemaat Koinonia sudah membuktikan diri dan berada dalam rel menuju gereja missioner.

Baca: Daerah Irigasi Bena TTS Juara I Nasional Lomba DI Teladan 2018

"Dengan dirintis dan dibukanya dua gereja baru Jemaat Batu Karang di Kompleks Asrama Tentara dan Jemaat Hoinbala, membuktikan bahwa gereja Koinonia telah membuktikan imannya menuju jemaat missioner. Dan ibarat kereta gereja sudah berada di jalur rel yang benar. Namun kalau hanya membangun gedung gereja saja dan mengaibaikan masalah-masalah kemanusiaan seperti perdagangan orang dan KDRT di NTT yang lagi marak, maka gereja masih berada pada jalur lambat, dan belum berada pada jalur cepat menjadi gereja yang sungguh-sungguh missioner," ujarnya.

Baca: Kasus Bayi Diduga Dibunuh Usai Dilahirkan Mahasiswi, Tak Ada yang Tahu Ibunya Hamil

Menurut Dr. Mesakh Dethan, Budaya NTT yang masih kurang menghargai kaum perempuan dan bahkan ada perlakuan kasar terhadap kaum perempuan harus dikritisi gereja terus-menerus agar ada perubahan pola kehidupan yang setara dan saling menghargai diantara sesama umat umat baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, mereka memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan Allah Pencipta.

"Kadang perlakuan orangtua yang tidak adil terhadap anak laki-laki dan perempuan bisa memicu konflik dan luka batin di antara mereka. Terkadang ada orangtua yang lebih memanjakan dan memperhatikan anak laki-laki. Kalau anak laki-laki dianggap sebagai kebanggaan keluarga, sehingga kalau diberikan uang lebih banyak daripada anak perempuan. Anak laki-laki misalnya dapat Rp 1.000.000, sedangkan anak perempuan hanya Rp 200.000, padahal kebutuhan anak perempuan sehari-harinya jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Coba kita bayangkan dan perhatikan dalam berpakaian saja anak perempuan akan memakai baju yang berberlapis-lapis, sedangkan anak laki-laki simpel saja, malah bisa bertelanjang dada. Kalau anak perempuan bertelanjang dada kan tidak bisa. Belum lagi kalau anak perempuan kebutuhan riasnya banyak dan makan waktu. Anak perempuan harus cabut bulu mata dan tanam kembali bulu mata, etc.," tandasnya yang mengundang tawa jemaat.

Dikatakannya, Tuhan memang berkarya dengan berbagai cara di dalam maupun di luar gereja. Namun penanaman nilai-nilai Kristiani bukan saja kita peroleh dalam relasi keluarga, masyarakat atau dalam kehidupan bernegara, tetapi juga terutama dalam kehidupan bergereja kita.
Tugas Gereja adalah menuntun orang percaya untuk setia dan dibangun di atas dasar Yesus Kristus sebagai kepala gereja, dengan menggalang semangat persatuan dan kesatuan pelayanan berdasarkan karunia talenta yang dimiliki masing-masing orang.

"Saya kira pemahaman ini yang menjadi inti pemikiran Rasul Paulus dalam nasehat kepada Jemaat di 1 Kor 3:10-23, dimana Paulus menasehati jemaat di Korintus untuk bersatu sebagai Tubuh Kristus turut serta dalam pekerjaan pelayanan pembanguan Jemaat. Pelayanan dalam gereja hanya bisa jalan kalau jemaat bersatu dan menghindari perpecahan dan pengelompokan diri atau membangun kubu-kubuan dalam jemaat. Bagi Paulus, pelayanan dalam gereja adalah membangun kemitraan dan kebersamaan di bawah pimpinan Allah di dalam menyebarkan kebenaran. (1 Kor 3:5-4:5)", kata Mesakh Dethan.

Mesakh Dethan menambahkan, bagi Rasul Paulus yang empunya pelayanan dalam gereja adalah Tuhan Allah sendiri, sehingga kita semua baik itu para pekerja gereja, para hamba Tuhan, para penatua, para diaken, para pengajar, dan seterusnya, adalah para pekerja Allah, mitra Allah dalam membangun gereja sebagai Tubuh Kristus.

Bagi Paulus, para pelayan itu tidak lebih dari pada hamba, karena sesungguhnya yang bekerja adalah Allah (1 Kor 3:5-9). Para pelayan sebagai mitra Allah dengan kapasitas dan talenta masing-masing diapakai Allah untuk membangun jemaat Tuhan (1 Kor 3:9-18), karena tidak boleh ada yang membanggakan diri atau terjebak dalam pengkultusan diri (1 Kor 3:18-23), karena semua kita toh akan dihamiki Allah ( 1 Kor 4:1-5).

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved