Opini Pos Kupang

Dalam Keremangan Aku Ingin Memelukmu, Aku Kalah

Dan berpotensi menjadi aktor, sekaligus orator untuk menggoda audiens melalui kata-kata, ekspresi, suara

Dalam Keremangan Aku Ingin Memelukmu, Aku Kalah
ilustrasi

Pertama, kampanye hitam itu memperlihatkan reaksi orang kalah dan kita bakal kalah lagi. Karena kita terkesan tidak mempunyai harga diri. Menaikkan kepercayaan dan ektabilitas dengan menghina atau mencaci maki orang lain, justru kita sedang menghina diri kita sendiri. Ketahuan bahwa kita calon yang tidak mempunyai gagasan berlian, tidak mempunyai pandangan yang revolutif atau program kerja yang solutif.

Kedua, secara psikologi sosial, kita hidup dalam tahanan (tekanan). Kita terus-menerus bertengkar dengan hati nurani. Lagi pula, kalau kita orang yang beriman, maka terus dikepung oleh rasa dosa yang menyapu bidang -bidang kudus hidup kita.

Lazimnya, karena tidak mempunyai keunggulan untuk dikompetisikan, lantas mengumbar dahak hoaks kepada masyarakat. Ketiga, kampanye hitam selalu mengundang antagonistik sosial. Hal itu membawa kegaduhan sosial yang dapat meretakkan tanah bangsa. Paling sial, apabila kita kalah, maka kita menjadi kompos sosial, diri kita tidak berharga.

Toh, sekali waktu, orang akan bertanya, apa yang Anda buat untuk rakyat selama menjadi anggota DPR atau menjadi pejabat? Apakah mobil mewah, rumah mega, kavling tanah di mana-mana, aset tak bergerak dan aset bergerak liar dan masif itu bisa dilegokan untuk rakyat?

Atau sebaliknya, semua itu didapatkan setelah Anda mendapatkan jabatan itu? Sejenis pertanyaan alkitabiah yang diajukan "ke dalam." Pada akhirnya, kita akan pergi sendirian, tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, tanpa mawar di tangan menyeberangi kesunyian abadi.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved