Berita Human Trafficking

Korban Human Trafficking, Erwiana Ajak Pekerja Migran untuk Berani Memperjuangkan Hak-haknya

Erwiana Sulistyaningsih mengajak para pekerja migran untuk berani memperjuangkan keadilan dan hak-haknya.

Korban Human Trafficking, Erwiana Ajak Pekerja Migran untuk Berani Memperjuangkan Hak-haknya
POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE
Mantan TKW Malaysia asal Pulau Timor, Mama Mariance (berdiri membelakangi lensa), menceritakan pengalamannya selama menjadi TKW di hadapan peserta Pertemuan Konsultasi Human Trafficking di Luwansa Beach Resort Labuan Bajo, Rabu (31/10/2018) malam. 

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Erwiana Sulistyaningsih, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan menjadi korban penyiksaan majikan di Hongkong, mengajak para pekerja migran untuk berani memperjuangkan keadilan dan hak-haknya.

"Memang ini butuh perjuangan, tetapi kalau kita bersungguh-sungguh maka kita akan bebas dari berbagai penyiksaan seperti yang kami alami.  Kita akan mendapatkan keadilan dan memperoleh hak-hak kita sebagai pekerja sebagaimana mestinya," kata Erwiana.

Hal itu disampaikan Erwiana usai menceritakan pengalamannya sebagai TKW di hadapan para peserta Consultative Group Meeting on Human Trafficking di Luwansa Beach Resort Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (1/11/2018) malam.

Ini merupakan hari kedua pelaksanaan kegiatan tersebut, dan di akhir setiap kegiatan didengarkan kesaksian dari korban sekaligus penyintas human trafficking (perdagangan manusia). Pada hari pertama, Rabu (31/10/2018) malam, para peserta mendengarkan kesaksian Mama Mariance, mantan TKW Malaysia asal Pulau Timor.

Kesaksian yang difasilitasi oleh Ibu Elga Sarapung dari lembaga Interfidei Indonesia ini berlangsung di hadapan lilin bernyala lalu diakhiri dengan doa bersama secara Katolik, Protestan dan Islam yang disampaikan secara bergilir oleh wakil peserta.

Mereka mendoakan para pekerja migran agar diperlakukan secara adil sesuai dengan hak-haknya. Mereka juga mendoakan para majikan di mana pun agar menghargai para pekerja. Secara khusus mereka mendoakan keselamatan jiwa Tuti Tursilawati yang telah dieksekusi mati di Arab Saudi, Senin (29/10/2018), setelah divonis bersalah oleh pengadilan dengan tuduhan membunuh majikannya.

Baca: Pertemuan Konsultasi Human Trafficking, Sudah 90 TKI Asal NTT Dipulangkan dalam Peti Mayat

Penyampaian kesaksikan ini berlangsung sangat emosional bahkan disertai derai air mata, seakan memutar kembali drama penyekapan dan penyiksaan mereka sejak masa persiapan hingga menjalani tugas sebagai TKW di luar negeri.

Erwiana lahir pada tanggal 7 Januari 1991, putri dari pasangan Rohmad dan Suratmi Saputra.  Ayahnya seorang pekerja kebun kelapa sawit di Sumatera, sedangkan ibunya seorang asisten rumah tangga di Kalimantan Utara.

Setelah lulus SMA pada tahun 2010 , ia bekerja di Sarinah Thamrin Jakarta dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. Setelah sekian lama bekerja, dia ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun gajinya tersebut dirasa tidak cukup untuk membiayai pendidikannya.

Baca: 40 Orang Ikut Pertemuan Konsultasi tentang Human Trafficking di Labuan Bajo, Flores Barat

Di tengah kesulitan tersebut, dia mendapat tawaran dari sebuah PJTKI untuk menjadi TKW di Hongkong dengan iming-iming gaji besar. Namun sejak proses perekrutan dan persiapan selama delapan bulan hingga menjadi TKW di Hongkong, dia mengalami penyekapan dan penyiksaan yang sangat keji.

Halaman
1234
Penulis: Agustinus Sape
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved