Berita Kabupaten Lembata Terkini

Panas Berlebihan Produksi Mete di Lembata Turun

Lantaran cuaca di Lembata sangat panas, sehingga dalam tahun ini produksi mete melorot drastis.

Panas Berlebihan Produksi Mete di Lembata Turun
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Pohon jambu mete yang tak berbuah di Desa Pada, Lewoleba. Gambar diambil, Kamis (1/11/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Lantaran cuaca di Lembata sangat panas, sehingga dalam tahun ini produksi mete melorot drastis. Pohon jambu mete umumnya tak berbuah sehingga kali ini petani tak terlalu menikmati hasil dari tanaman umur panjang ini.

Disaksikan POS-KUPANG.COM di Lewoleba, Kamis (1/11/2018), pohon jambu mete yang tumbuh di kebun petani, umumnya tak berbuah. Kalau pun ada buah, hanya satu dua saja. Sebelebihnya cuma terlihat daun yang menghijau.

Martinus Igo, seorang petani di Lamahora, mengatakan, tahun ini tanaman itu tak banyak berbuah. Ini terjadi karena bunga jambu mete berguguran dikibas angin kencang. Bunga tanamam juga tak terlalu banyak karena cuaca teramat panas.

Baca: Anggota Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 743/PSY Beri Bantuan Material untuk Kapela

Akibatnya, lanjut Martinus, sepanjang tahun ini, produksi mete menurun tajam. Kondisinya berbanding terbalik dengan masa panen tahun 2017 silam. Saat itu jambu mete memberikan hasil lumayan baik sehingga pihaknya bisa memenuhi sejumlah kebutuhan rumah tangga.

Baca: Diberi Kuota 1.000 Ekor Kerbau, Manggarai Barat Belum Kirim 249 Ekor

Dikatakannya, ketika produksi mete melorot, harga di pasar justru melonjak. Tahun ini, harga mete menembus angka Rp 22.000 per kg. Harga ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Gara-gara produksi mete sangat kurang, kata Martinus, sehingga para petani umumnya menyandarkan hidup pada kopra dan kemiri. Hanya saja, harga kopra terlampau murah sehingga para petani tak serius menggarapnya. Apalagi yang punya kebun kelapa hanya satu dua orang saja.

Saat ini, la jut dia, tetangganya rumahnya terpaksa mencari uang dengan membelah kelapa atau mencungkil kepala yang telah dijemur untuk dijadikan kopra. Pekerjaan ini hanya dibayar seadanya, namun itu terpaksa dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved