Tenun Ikat Asli NTT Bakal Punah Bila Tidak Segera Menempuh Langkah Ini Sejak Sekarang

Menurut Manuk, jika penenun yang telah berumur 40 -50 tahun saat ini sudah tiada, bagaimana melanjutkan tradisi menenun

Tenun Ikat Asli NTT Bakal Punah Bila Tidak Segera Menempuh Langkah Ini Sejak Sekarang
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR
Seorang perempuan Sumba Barat di Kampung Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang menenun kain sumba untuk kebutuhan keluarganya. Kain sumba ini dijual kepada wisatawan maupun warga setempat. Harga kain sumba berkisar dari Rp 300.000 sampai Rp 2.500.000 sesuai dengan motifnya. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk memiliki kiat praktis agar aktivitas tenun di NTT tidak punah. Tenun harus dimasukkan menjadi kurikulum di sekolah sehingga semua anak belajar menenun sejak dini.

"Mesti ada generasi yang melanjutkan untuk menenun. Kami sudah berembuk dengan beberapa pihak agar menenun bisa dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah," kata Piet Manuk di Gedung Taman Budaya Gerson Poyk Kupang, Jumat (19/10/2018).

Selain itu, katanya, pada tahun 2020, pihaknya akan menggelar festival tenun untuk seluruh sekolah di NTT. "Untuk tenunan, saya gelisah. Saya menghadiri festival Pahmeto di SoE. Mewakili gubernur, saya menyampaikan sambutan. Saya tanya ke bupati, berapa siswa yang bisa menenun? Mereka tidak tahu karena tidak ada data. Di Jawa pun sama. Kalaupun ada siswa yang bisa menenun, jumlahnya sedikit," katanya lagi.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini, 30 Oktober 2018, Asmara Capricorn Memuncak, Aries Dilema

Baca: Kehidupan RM BTS Tak Banyak Diketahui Orang, Army Mesti Tahu

Baca: 7 Kali Lee Je Hoon Membuat Kita Terbenam dalam Episode 9-12 Drakor “Where Stars Land”

Menurut Manuk, jika penenun yang telah berumur 40 -50 tahun saat ini sudah tiada, bagaimana melanjutkan tradisi menenun tersebut.

"Kami sudah merumuskan dan sekarang surat sudah ada di meja Pak Gubernur. Kami telah rapat dengan Dinas Pendidikan, Pariwisata, dan Perindustrian. Dan kesepakatan kami, apakah menenun itu menjadi mulok (muatan lokal) wajib untuk sekolah-sekolah di NTT atau menjadi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah," katanya.

"Sekolah SD di NTT sekitar 5.000 lebih. SMP 1.500-an. SMA/SMK 800-an. Ambil saja 30 persen sekolah-sekolah itu menerapkan rencana ini, maka kita bisa menyelamatkan tenunan kita dari kepunahan penerus," katanya.

Namun, sambungnya, langkah praktis yang bisa mereka lakukan adalah membentuk komunitas tenun di sekolah-sekolah. "Tahun depan kita akan membentuk komunitas tenun di sekolah-sekolah. Ini langkah praktis yang kami lakukan," ujarnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT, Kosmas D Lana, secara terpisah mengatakan masyarakat belum terlalu mengenal Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) NTT yang berlokasi di Jalan Palapa Nomor 4, Kota Kupang.

Kosmas mengatakan kehadiran PLUT untuk memenuhi kebutuhan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). "PLUT berawal dari keresahan masyarakat bahwa mereka memiliki produk tapi tidak memiliki akses untuk menjualnya. Di mana mereka menjual dengan harga berapa dan kepada siapa," katanya.

Untuk itu, imbuhnya, PLUT NTT menjadi solusi. Di PLUT ada galeri yang menjadi tempat penampungan produk-UMKM untuk dijual. Namun, lanjutnya, pihaknya hanya menerima produk yang telah memiliki izin usaha dan telah mengantongi sertifikat halal. "Dengan adanya pemberitaan ini, kami berharap masyarakat bisa mengurus hal-hal itu dan bisa menitipkan produknya," kata Kosmas.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved