Berita Kabupaten Malaka

Ribuan Penari Likurai Sambut Patung Maria di Betun

Lebih dari 1.000 penari likurai dan bidu menyambut gembira kedatangan Patung Bunda Maria ke pusat Dekenat Malaka di Betun

Ribuan Penari Likurai Sambut Patung Maria di Betun
POS KUPANG/TENY JENAHAS
Penari likurai saat menyambut kedatangan Patung Bunda Maria ke pusat Dekenat Malaka di Betun, Kamis (25/10/2018). 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| BETUN--Lebih dari 1.000 penari likurai dan bidu menyambut gembira kedatangan Patung Bunda Maria ke pusat Dekenat Malaka di Betun, Provinsi NTT l, Kamis (25/10/2018) sore.

Para penari berasal dari kalangan pelajar tingkat SD, SMP dan SMA/SMK se Kabupaten Malaka.

Pantuan Pos Kupang.Com, ribuan penari membuat pagar betis di jalan mulai dari persimpangan SMPK Sabar Subur sampai di depan Gereja Paroki Betun.

Baca: Warga Minta Pemkab Sumba Timur Bangun Stadion di Lapangan Pemuda Matawai

Baca: Dian Sorowea Nyanyi di HUT SMAK Bhaktyarsa

Baca: Kristo Harap Siswa SD Dibekali dengan Pendidikan Karakter

Baca: Ini Daftar Asal Tamu IMF yang Berkunjung ke Labuan Bajo

Mereka mengenakan busana adat dilengkapi aksesoris lainnya seperti mahkota. Penari laki-laki memakai lonceng yang diikat pada pergelangan kaki.

Penyambutan patung Bunda Maria tidak hanya penari likurai dan bidu tetapi juga kelompok drum band. Ribuan umat Paroki Betun hadir dalam perarakan tersebut.

Ketua Umum Perarakan, Petrus Bria Seran mengatakan, dirinya sangat gembira dan senang karena Bunda Maria sudah mengunjung anak-anaknya di Kabupaten Malaka.

Baca: Korban Menangis Disetubuhi di Lapangan Bola

Baca: Program Studi PGSD Citra Bakti Ngada Hadirkan Pakar Ini Berikan Kuliah Umum

Baca: Ruteng dan Atambua Diprediksi Hujan Hari Ini

Perarakan tahun 2018 sedikit berbeda dengan dua tahun lalu. Tahun 2018 terlihat lebih meriah dan banyak kegiatan selain perarakan seperti, pameran, pertandingan olaharga, penampilan ribuan penari dan drumband.

Menurut Petrus Bria Seran, panitia menghadirkan ribuan penari dari kalangan pelajar dengan pertimbangan, anak-anak adalah generasi mudah yang akan meneruskan tradisi tersebut di masa mendatang. Dari sekarang mereka dilibatkan sehingga mereka merasa memiliki dan bisa meneruskannya.

Kemudian, kehadiran ribuan penari ini sebagai upaya pelestarian budaya. Kaum mudah harus melestarikan budaya agar tidak tergerus perkembangan jaman yang kiat pesat.(*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved