Dosen UKAW Kupang Dr. Mesakh Dethan Tegaskan Tidak Ada Agama Nasional dan Doa Nasional

Demikian cuplikan pemikiran Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada acara

Dosen UKAW Kupang Dr. Mesakh Dethan Tegaskan Tidak Ada Agama Nasional dan Doa Nasional
ISTIMEWA
Dr. Mesakh Dethan bersama para mahasiswa Pascasarjana UKAW Kupang yang diundang khusus hadir dalam acara tersebut. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- "Kerja sama antarumat beragama tidak dilakukan dalam rangka pencampuran ajaran teologi dari tiap agama di Indonesia sehingga seolah-olah bisa menghasilkan agama nasional, doa nasional dan sebagainya. Kerja sama antarumat beragama di Indonesia terjadi karena kita memiliki keprihatinan yang sama terhadap manusia ciptaan Tuhan yang lemah dan terkebelakang dalam berbagai hal (kemiskinan, perdagangan orang, pelestarian linkungan hidup, etc) yang dapat dilakukan dalam bidang-bidang sosial kemasyarakatan, pendidikan, dan kebudayaan untuk mencapai tujuan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara."

Demikian cuplikan pemikiran Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada acara Sosialisasi dan Dialog Antara Pemerintah Daerah dengan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat dalam Rangka Peningkatan Toleransi dan Kerukunan Kehidupan Beragama Tingkat Kabupaten Kupang Tahun 2018 di M Hotel Kupang, 25 Oktober 2018.

Baca: Jangan Sampai Anda Termasuk 6 Zodiak yang Suka Ceroboh dan Sering Terjatuh, Cek di Sini

Baca: Baru Dirilis 4 Jam, Kolaborasi BTS Steve Aoki Waste it on Me Rajai Tangga Lagu Di Berbagai Negara

Baca: 7 Kali Lee Je Hoon Membuat Kita Terbenam dalam Episode 9-12 Drakor “Where Stars Land”

Menurut Dr. Mesakh Dethan, kerja sama adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (organisasi, lembaga keagamaan, lembaga pemerintah atau non pemerintah, dsb) untuk mencapai tujuan bersama dan cita-cita bersama.

Dikatakannya, kerja sama hanya harus memiliki nilai kasih dan memiliki niat tulus baik kepada agama sendiri maupun agama orang lain. Nilai kasih dan niat tulus dengan sendirinya akan terpancar dalam perilaku seperti sikap tenggang rasa, tepa selira, setia kawan, tidak menghina agama dan keyakinan orang lain, tidak menganggap diri besar dan menindas yang kecil dan pandai mengendalikan diri, baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak.

"Oleh karena itu kerja sama antarumat beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama yang satu dengan ajaran agama yang lainnya, tidak juga dalam pengertian merendahkan atau bahkan menyangkali ajaran agamanya sendiri demi diterima oleh pihak agama lain, atau karena mau menjadi teolog sok pluralis, sok inklusif dan sok liberal," kata doktor tamatan Jerman ini.

Menurut dia, kerja sama antarumat beragama harus ditanamkan dan dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama yang menyangkut kepentingan bersama.

Bila kerja sama dapat dilakukan dengan itikad baik untuk kebenaran maka selain kerukunan, sikap kekeluargaan juga dapat terbina antarumat beragama sehingga mempermudah tercapainya tujuan dan cita-cita nasional untuk memperkuat empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Lebih jauh Dr. Mesakh Dethan juga mengingatkan peserta yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat serta mahasiswa Pascasarjana UKAW yang diundang khusus untuk hadir agar terus mempertahankan NTT sebagai provinsi terukun di Indonesia disusul Bali dan Maluku.

Dr. Mesakh Dethan mengingatkan para peserta bahwa Indonesia dan NTT memiliki tiga fakta besar yang harus dingat dan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Tiga fakta besar itu adalah pertama, Indonesia adalah satu-satunya negara dengan jumlah budaya dan agama terbanyak di dunia, namun umumnya bisa hidup rukun dan damai.

Menurut data BPS 2010 Indonesia memiliki 2.000 aliran kepercayaan, 780 suku dan 6 agama resmi yang diakui negara. Fakta kedua, Dewan Senator The World Peace Committee sebagai pengelola GPN memutuskan Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai lokasi yang memenuhi syarat untuk ditempatkan secara permanen Gong Perdamaian Nusantara.

Penunjukan Kota Kupang sebagai salah satu lokasi penempatan GPN, membuat Pemerintah Kota Kupang mendapat peneguhan substansi Kota Kupang sebagai Kota Kasih serta memberi dorongan untuk menuju perdamaian abadi.

Fakta ketiga, NTT telah ditetapkan sebagai provinsi terukun di Indonesia. Rabu, 30 Desember 2015 telah menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat NTT yang multikultural dan multireligius namun memiliki indeks kerukunan tertinggi di Indonesia di atas Bali dan Maluku dengan dianugerahi Harmony Award 2015 yang diterima waktu itu oleh mantan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi NTT, Drs. Sarman Marselinus.

"Oleh karena itu kita tidak hanya boleh berbangga tetapi juga kita memiliki tanggung jawab besar untuk terus bekerjasama mempertahankan moral kerukunan di NTT pada level yang seharusnya dan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia dari provinsi-provinsi lainnya", demikian mantan wartawan Pos Kupang ini. (*)

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved