Berita NTT Terkini

Ketua LPJK NTT, Paulus Tanggela: Jangan Bangga Jadi Sarjana Kalau Tidak Bisa Kerja

Ketua LPJKP NTT, Paulus Tanggela, ST mengatakan, jangan bangga sudah meraih sarjana (teknik) tapi saat pulang kampung tidak bisa bekerja.

Ketua LPJK NTT, Paulus Tanggela: Jangan Bangga Jadi Sarjana Kalau Tidak Bisa Kerja
POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi (LPJKP) NTT, Paulus Tanggela, ST saat membuka kegiatan, Senin (22/10/2018) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM | KUPANG -Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi (LPJKP) NTT, Paulus Tanggela, ST mengatakan, jangan bangga diri karena sudah meraih sarjana (teknik) tapi saat pulang kampung tidak bisa bekerja.

Hal itu disampaikan Paulus Tanggela saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Percepatan Uji Sertifikasi Sertifikat Keahlian Kerja (SKA) dan Sertifikat Keahlian Trampil (SKT) di lantai 3 Gedung Rektorat baru Undana Kupang, Senin (22/10/2018).

Kegiatan yang diselenggarakan LPJKP NTT bekerjasama dengan Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, ini diikuti 238 peserta, terdiri dari 88 peserta SKA dan 150 peserta SKT.

Baca: Mahmud Lebu Ditangkap di Maumere, Gelapkan 6 Laptop dan 5 Hp

Kegiatan ini dihadiri A Darmawijaya selaku Japung Pembina Jakon Madya Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Ketua Unit Sertifikasi Tenaga Kerja (USTK) LPJK Provinsi NTT, Ir. Boyke RD Joenan, M.Si, Wakil Ketua I LPJK NTT, Muhamad Tanu, ST, MM, Manajer Eksekutif LPJK NTT, Farah D Pasumain, SE, para pengurus LPJK NTT, unsur dari Undana Kupang serta ratusan peserta.

A Darmawijaya selaku Japung Pembina Jakon Madya Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR  saat membuka uji kompetensi di aula rektorat Undana Kupang, Senin (22/10/2018).
A Darmawijaya selaku Japung Pembina Jakon Madya Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR saat membuka uji kompetensi di aula rektorat Undana Kupang, Senin (22/10/2018). (POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA)

Paulus mengatakan, salah satu pilar untuk mendorong percepatan pembangunan adalah pembangunan infrastruktur. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus dilakukan oleh tenaga yang benar-benar berkompeten.

Baca: Rofin Kabelen: Bersyukur PAN Kembali Terakomodir

Untuk mengetahui kemampuan seorang tenaga kerja atau pelaku jasa konstruksi maka dibutuhkan ujian kompetensi. Hasil dari ujian itu nantinya akan diberikan sertifikat sebagai bukti pengakuan terhadap kompetensi atau kemampuan seseorang.

"Karena itu saya minta para asesor untuk melakukan uji dan wawancara sungguh- sungguh agar tenaga yang kompeten ini nantinya betul-betul tenaga ahli di bidangnya (jasa konstruksi)," kata Paul.

Panitia, peserta dan pengurus LPJKP NTT foto bersama seusai acara pembukaan kegiatan di Aula rektorat baru Undana Kupang, Senin (22/10/2018)
Panitia, peserta dan pengurus LPJKP NTT foto bersama seusai acara pembukaan kegiatan di Aula rektorat baru Undana Kupang, Senin (22/10/2018) (POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA)

Paul juga mengingatkan peserta bahwa sertifikasi bukan menjadi tujuan akhir, tapi sebagai tantangan untuk terus belajar. "Pegang sertifikat itu menjadi titik awal untuk belajar sungguh-sungguh. Tunjukkan di.lapangan keahlian yang adik-adik miliki itu," katanya.

Ditambahkan, ujian sertifikasi itu selain untuk meningkatkan kualitas tenaga konstruksi, juga untuk menangkal masuknya tenaga kerja dari luar daerah. "Karena itu saya ingatkan lagi peserta yang ikut ujian ini harus belajar sungguh-sungguh. Dengan sertifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan. Jangan malas belajar," katanya.

Japung Pembina Jakon Madya Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, A Darmawijaya, mewakili Kepala Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, juga menyampaikan bahwa peserta yang mengikuti uji kompetensi ini merupakan orang-orang yang beruntung. Sebab, sesuai ketentuan undang-undang (UU), perusahaan wajib pekerjakan tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat.

Darmawijaya juga mengimbau kepada para peserta untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan baik. Ia juga meminta para asesor untuk memberikan penilaian yang obyektif. "Kalau memang kompeten katakan sudah kompeten, dan kalau belum kompeten katakan belum kompeten," katanya.

Meski demikian, Darmawijaya meminta kepada para peserta untuk tidak takut. Sebab tidak mungkin asesor bertanya diluar dari yang sudah ditentukan. "Sama seperti yang ditekankan Pak Ketua (Ketua LPJKP NTT, Red), kalau sudah selesai jangan hanya bangga karena sudah mendapatkan SK muda. Tapi terapkan ilmu yang sudah diperoleh di lapangan dengan baik-baik," katanya.

Ia juga meminta peserta jangan kaku mempraktikan ilmu di lapangan. "Misalnya dalam teori besi tidak boleh disambung. Lalu kalau di lapangan panjangnya 20 meter apa ada besi yang panjangnya begitu? Karena itu ketentuan itu jangan terlalu kaku, tapi juga ikuti aturan," kata Darmawijaya. (*)

Penulis: Kanis Jehola
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved