Opini Pos Kupang

Ketika Politik Mengalir ke Desa

Politik itu indah karena dinamikanya mengandung seni bermain-main. Para pemainnya memilih ruang terbuka atau tertutup.

Ketika Politik Mengalir ke Desa
ilustrasi

Politik itu keji karena teman tinggal teman, tetapi curiga jalan terus. Anda tidak boleh tidak menduga, bahwa orang yang sangat dekat dengan Anda, adalah sahabat Anda. Kemungkinan justru dia itulah musuh permanen Anda.

Politik Desa

Di tingkat desa, ada banyak perangkat struktural. Para politisi melihat segmen ini penting dijamah dalam skema mobilisasi dukungan politik elektoral. Kepala Desa, misalnya. Sudah lumrah diketahui, para kepala desa merupakan komponen politik strategis taktis yang selama ini ikut bermain-main dalam permainan politik elektoral.

Karena itu, banyak di antaranya, jarang fokus membangun desa. Mereka lebih gemar bermain politik manakala ada calon yang diunggulkannya.

Kepala Desa memobilisasi dan menggalang dukungan rakyat untuk kepentingan kandidat tertentu. Jika ulah Kepdes ini tidak dikontrol, maka mereka bebas melakukan manuver politik.

Di desa pun ada para pendamping desa. Ada beberapa skema kemungkinan imajinasi para pendamping desa terhadap politik. Pertama, para pendamping desa sebagai agen politik tertentu. Mereka menjadi instrumen jaringan politik. Karena itu, politik beralih ke tangan para pendamping desa.

Gosip umum mensinyalir bahwa pendamping desa yang lolos butuh harus cocok dengan partai politik tempat dari mana elit politik desa berasal. Karena itu, para pendamping desa diduga menjadi agen politik partai tertentu.

Kedua, para pendamping desa tak berfungsi sebagai mesin politik karena mereka anti-politik. Mereka adalah kaum terpilih dan terdidik yang profesional di bidang memobilisasi kemakmuran rakyat di desa.

Dalam bahasa Charles M. Tiebout (1956), pembangunan mengalir ke bawah, diproses di bawah agar terjadi mobilisasi kemakmuran di bawah. Karena itu, para pendamping desa menjadi instrumen kunci tata administratif desa, aktor kunci dalam manajamen keuangan desa.

Akibatnya, para pendamping desa tidak perlu punya kepekaan politik, kecuali fokus pada tujuan pembangunan yang telah dirancang sistemtis. Tetapi, ketika invasi masif aktor partai politik (para caleg) ke desa, para pendamping desa kemudian terbimbing dan tergoda masuk ke wilayah permainan faksi-faksi politik.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved