Opini Pos Kupang

Indonesia Bangsa yang Selalu Berduka. Mengapa?

Luka dan duka bangsa Indonesia seakan tiada berujung dan tiada berakhir. Luka dan duka 1965 tak pernah terobati hingga kini

Indonesia Bangsa yang Selalu Berduka. Mengapa?
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). 

Sebuah Refleksi Kemarin, Hari Ini dan Esok

Oleh Pdt. Dr. Mesakh Dethan
Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang

POS-KUPANG.COM -- Apakah Pancasila itu masih sakti? Ataukah kesaktiannya telah pudar dan telah tergantikan?

Apakah kesaktiannya telah pudar baik karena bencana yang terus-menerus terjadi atau telah muncul para "politisi sakti", yang bersalah tetapi selalu benar, yang korup tapi pandai berkelit, yang masa bodoh tetapi tetap merasa hebat dan berhasil karena selalu dibela, yang punya banyak pendukung tanpa otak dan hati nurani.

Baca: Pisces, Libra, Scorpio Dan 3 Zodiak Ini Paling Lama Menentukan Orang Yang Akan Menjadi Pasangannya

Arsip Foto. Tim penyelamat mencari korban gempa dan tsunami di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) yang terjadi pada 28 September 2018.
Tim penyelamat mencari korban gempa dan tsunami di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) yang terjadi pada 28 September 2018. ((ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja))

Luka dan duka bangsa Indonesia seakan tiada berujung dan tiada berakhir. Luka dan duka 1965 tak pernah terobati hingga kini, pembantaian terhadap ribuannya orang tak berdosa hingga kini hanya menjadi bayang-bayang kelam karena kita hanya mau melihat dari kacamata politis belaka dan tidak mau pernah melihat dari kacamata yuridis dan apalagi kemanusiaan.

Kita menangis bersama Donggala, Sigi dan Palu karena bencana gempa dan tsunami baik karena kekuatan alam maupun "human error".

Baca: Penggemar Drama Korea, Intip 10 Drakor Yang Bakal Tayang Bulan Oktober 2018

Menurut Jonatan Lassa: "Harga yang dibayar cukup mahal karena begitu banyak kematian akibat ketidakmampuan mengevakuasi diri).

Hampir sebagian besar korban tsunami tidak mendapatkan informasi evakuasi paska gempa dari pemerintah. Tidak ada sirine yang berbunyi. Pada saat yang bersamaan, masyarakat belum memiliki gerakan refleks evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi begitu terjadi gempa"...) karena salah memberi informasi, dan rusaknya alat peringatan dini untuk Tsunami pada hal ada anggaran pemeliharaannya (http://www.metrotvnews.com/amp/yNLdaLPN-komisi-v-pertanyakan-alokasi-anggaran-pemeliharaan-buoy ).

Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018).
Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). (KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Tapi kita juga berduka untuk "bencana keragaman" di Jambi dimana ada penyegelan gereja oleh pemerintah setempat dan ormas-ormas tertentu.

Baca: Suga BTS Lakukan Hal Tak Terduga Bareng DJ Ini, Army Panik, Ada Yang Sudah Siapkan Kuburan!

Terhadap semua duka itu, kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan bertindak menolong. Tetapi melemparkan semua tanggung jawab pada Tuhan dan kita hanya mau "cuci tangan" ada perbuatan tercela dan melanggar prinsip-prinsip Pancasila dan UUD 1945.

Siapakah yang berwenang untuk mengamalkan sila Kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Kita semua, termasuk pemegang amanah rakyat: Presiden Indonesia dan ara Wakil Rakyat "di tempat yang pertama" karena mereka dipilih rakyat Indonesia untuk itu.

Para politisi dan kita semua "di tempat yang kedua", yang dekat jalur-jalur kekuasaan perlu bersuara dan bertindak nyata, jika tidak Pancasila dan UUD 1945 dan semua pasal terkait hanyalah wacana dan retorika belaka dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam ancaman yang besar terhadap eksistensinya ke depan.

Semoga kita tidak hanya diam menonton, tetapi bicara dan bertindak!

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved