Opini Pos Kupang

Catatan Awal Menuju Pileg 2019

MASIH terbayang dalam benak semua masyarakat Indonesia akan kasus korupsi yang menjerat 41 anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka suap

Catatan Awal Menuju Pileg 2019
KOMPAS.COM
Ilustrasi pemilu 

Oleh: Mario Djegho, Anggota GMNI Cabang Kupang

MASIH terbayang dalam benak semua masyarakat Indonesia akan kasus korupsi yang menjerat 41 anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka suap dan penerimaan gratifikasi pengesahan RAPBD Perubahan Kota Malang tahun 2015 (Pos Kupang, Selasa 4/9/2018, hal. 2).

Kasus korupsi "berjamaah" terbesar dalam sejarah penanganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu ramai diberitakan oleh berbagai media massa sebagai headline utamanya. Para wakil rakyat yang katanya bekerja dengan hati, integritas, dan kejujuran tinggi kini berubah drastis menjadi parasit yang merusak citra legislatif di mata rakyat.

Mereka (para koruptor) selalu bersua dalam janji kampanye tetapi gagal mendefinisikan jati diri sendiri. Berdiri atas nama eksistensi tapi malah lupa akan esensi keberadaannya.

Baca: Menjadi Instrumen Belas Kasih Allah

Berdialog dalam junjungan ideologi tapi malah menusuk rakyat dari belakang. Nama Tuhan dipatri dalam sumpah dan perkataan tetapi sikap dan tindakan tidak mampu memeluk nurani.

Itulah litani para koruptor yang selalu berdiri atas nama demokrasi di tampuk pemerintahan, lembaga politik, maupun swasta, tetapi pada dasarnya tidak lebih dari pencuri yang berlagak seperti tong kosong yang nyaring bunyinya.
Fenomena korupsi yang terkesan sistemik di negeri ini sebenarnya sangat menarik untuk dicermati.

Eksistensi KPK, Polri, dan kejaksaan pun tidak membuat gentar para koruptor untuk beraksi bak pencuri di siang hari. Bahkan semakin mewabahnya korupsi sebagai kejahatan sosial kelas berat secara perlahan merusak tata kelola kehidupan bersama.

Mengapa? Sebab bila diamati korupsi di negeri ini seakan bermetamorfosa menjadi sebuah hal lumrah bahkan gaya hidup baru. Jika merujuk pada pendapat Aristoteles bahwa manusia adalah mahkluk sosial (ens sociale) dan politik (zon politicon) yang memiliki budaya dan sistem sosial yang mengaturnya, maka korupsi tidak lain merupakan bentuk pengingkaran jati diri sosial seseorang terhadap masyarakat.

Lalu yang membuat hati rakyat teriris sakit adalah para pencuri uang rakyat itu tidak menunjukkan rasa malu dan masih tersenyum di depan media. Ironisnya, ketika narkoba dan korupsi dinyatakan sebagai kejahatan luar biasa, para koruptor malah diberikan remisi, dan para bandar narkotika ditembak mati.

Integritas dan Kejujuran
Persoalan korupsi yang sedang mewabah di negeri ini lebih santer menjerat para kaum berpendidikan. Latar pendidikan yang baik ternyata tidak menunjukkan linearitas akan sikap dan tindakannya di tengah kepentingan bersama.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved