Berita Tsunami Palu

PDI-P Sejalan dengan SBY soal Penghentian Sementara Kampanye demi Korban Bencana

PDI Perjuangan mengapresiasi pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, soal penghentian kampanye pilpres

PDI-P Sejalan dengan SBY soal Penghentian Sementara Kampanye demi Korban Bencana
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Kerusakan akibat gempa bumi yang melanda, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - PDI Perjuangan mengapresiasi pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, soal penghentian kampanye pilpres demi pemusatan perhatian atas penanganan pascagempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan, seruan itu sudah sejalan dengan arahan partainya.

"Seruan Pak SBY mengedepankan bantuan kemanusiaan dan menghentikan kampanye pilpres, sejalan dengan seruan PDI Perjuangan pada 29 September lalu," ujar Hasto dalam siaran pers, Senin (1/10/2018).

Baca: Gempa Sulteng, SBY Imbau Kampanye Dihentikan Sementara

Oleh sebab itu, Hasto berharap agar semua elite partai politik beserta seluruh timnya bersatu membantu masyarakat yang sedang dilanda bencana.

"Seluruh elite bangsa harus bersatu. Kedepankan kemanusiaan, gotong royong dan bela rasa. Gempa bumi dan tsunami semakin menyadarkan kita pentingnya tindakan cepat tanggap darurat. Semua partai, tim kampanye, dan seluruh tokoh harus bersatu dan bergandengan tangan membantu rakyat yang menjadi korban," ujar Hasto.

Baca: Pemprov Jabar Siapkan Rp 2 Miliar untuk Bantu Korban Bencana Sulteng

Arahan itu, lanjut Hasto, juga menjadi kebijakan Presiden Joko Widodo yang juga merupakan salah satu kontestan pada Pilpres 2019.

"Presiden Jokowi terus memimpin secara langsung tanggap darurat tersebut," ujar Hasto.
Ia menambahkan, kerja sama seluruh Partai di DPR bersama pemerintah untuk mengedepankan mitigasi bencana sangatlah penting. Sebab, Indonesia berada di jalur ring of fire.

Mitigasi bencana dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan baik secara sosial, pendidikan masyarakat, maupun penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan, seperti rancangan bangunan tahan gempa.

Indonesia bisa belajar dari Jepang, bagaimana rakyat di mulai dari TK, SD, hingga universitas dipersiapkan secara khusus untuk menghadapi bencana alam, termasuk gempa, ketika hal tersebut terjadi.

"Solidaritas bangsa untuk kemanusiaan melalui gotong royong bagi korban bersifat wajib karena itulah kultur bangsa," ujar Hasto. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved