Oleh Ebith Lonek CMF

Kemanakah Arah Demokrasi Selanjutnya?

Demokrasi itu ibaratkan "jantung" sekaligus "paru-paru" bagi banyak negara di belahan dunia. Mengapa Tidak?

PADA dasarnya kebebasan yang dimiliki manusia itu penuh dan tidak dibenarkan jika itu harus dirampas oleh orang lain. Dari sebab itu di mana-mana kebebasan itu menjadi topik yang dengan penuh semangat diperjuangkan. Ajaran agama-agama tersebut secara positif telah mendukung kebebasan yang-paling tidak-bermuara pada kekuasan rakyat atau demokrasi (Acry Deo Datus:2013:310).

Demokrasi itu ibaratkan "jantung" sekaligus "paru-paru" bagi banyak negara di belahan dunia. Mengapa Tidak? Ibaratkan jantung dan paru-paru menandakan bahwa manusia itu hidup, demikianlah demokrasi menjamin kehidupan rakyat yang lebih baik. Walaupun dalam logika Aristoteles memandang demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang merosot, karena dalam negara yang berbentuk demokratis yang berkuasa ialah orang-orang miskin, serakah dan tidak beradab. Mereka pertama-tama berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tidak mengindahkan kesejahteran umum (Deo Datus:306).

Namun pada realitanya, demokrasi menjadi sistem yang paling banyak dianut oleh negara-negara di dunia ini. Sehingga apa yang oleh Aristoteles adalah suatu pemerintahan yang merosot dan didukung oleh pernyataan seorang pedekar demokrasi modern, Winston Churchill: Democracy is the worst form of the government except all other forms that have been tried from time to time, "Memang demokrasi itu bentuk pemerintahan yang jelek, tetapi yang lebih baik tidak ada" seakan digagalkan oleh tesis mini yang memboncengi fakta bahwa orang-orang di seluruh dunia, menjadikan demokrasi sebagai pusat dan tumpuan harapan akan masa depan yang lebih cerah dan cita-cita menuju suatu kehidupan yang penuh kebebasan dan bermartabat.

Demokrasi "Yang ke-10 tahun"
Berdasarkan keputusan sekjen PBB, 15 September ditetapkan sebagai hari merayakan kemajuan demokrasi di berbagai belahan dunia. Berbagai negara termasuk Indonesia telah menjadi demokrasi dan jalan ke arah demokrasi juga tengah diratakan di banyak negara. Karena itu, masuk akal pertimbangan PBB bahwa demokrasi memberikan peluang lebih besar bagi terwujudnya berbagai ekspresi hak dasar manusia, terutama dalam aspirasi politik.

Mengingat pertumbuhan demokrasi yang cepat dan fenomenal itu, tidak mengherankan jika PBB dalam Sidang Umum ke-62, 15 September 2008, menetapkan 15 September itu sebagai Hari Demokrasi Internasional pertama, yang selanjutnya dirayakan setiap tahunnya. Penetapan Hari Demokrasi Internasional ini berkaitan pula dengan peringatan 20 tahun Konferensi Internasional Pertama tentang "New or Restored Democracies" yang diselenggarakan di Manila, Filipina, pada 3-6 Juni 1988, yang memainkan peran penting dalam mendorong penguatan dan pertumbuhan demokrasi di berbagai negara.

Meski demokrasi tumbuh dengan sangat cepat, PBB menyadari bahwa demokrasi masih perlu dipromosikan dan dikonsolidasikan. Apalagi, masih ada kalangan masyarakat dunia yang mempersoalkan demokrasi, misalnya dengan menganggap demokrasi tidak relevan dengan kehidupan mereka atau demokrasi merupakan sistem politik asing yang berasal dari Barat yang tidak cocok dengan kehidupan mereka.

Merespons persepsi semacam itu, Resolusi Majelis Umum PBB No 62/7 yang menetapkan 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional menyatakan, "Demokrasi adalah sebuah nilai universal berdasarkan keinginan rakyat yang diekspresikan secara bebas untuk menentukan sistem-sistem politik, ekonomi, sosial, dan kultural mereka sendiri serta partisipasi penuh dalam seluruh aspek kehidupan mereka."

Lebih jauh, demokrasi memiliki ciri-ciri umum yang dimiliki bersama tetapi pada saat yang sama juga tidak ada satu model demokrasi tertentu. Demokrasi juga tidak terkait dengan negara atau kawasan tertentu (Azyumardi Azra, 29 September 2011).

Dengan demikian demokrasi telah menginjak usia yang ke-10 sejak legitimasi publik pada tanggal 15 September 2008 sebagai hari Demokrasi Internasional. Walaupun dalam kerangka historisitasnya usia demokrasi telah berabad-abad, yang mana demokrasi diamini mula-mula berkembang di polis atau negara kota di zaman Yunani Kuno kira-kira pada abad ke 6 SM (Deo Datus:305).

Bagi penulis historisitas tidak selalu menjamin kualitas dalam gengaman realitas. Di abad ke-18 seorang Benjamin Franklin pernah menjuluki demokrasi sebagai "matahari terbit", namun setelah 200 tahun berlalu matahari itu tetap bersinar bahkan semakin terang biasan sinarnya. Dengan demikian usia demokrasi baik dari sisi legitimatif publik maupun historisitasnya telah menunjukkan kualitasnya dalam gelanggang realitas dunia ini.

Halaman
12
Editor: Sipri Seko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved