Opini Pos Kupang

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere

Berdasarkan laporan tersebut, P. Metz meminta tenaga imam untuk membangun stasi-stasi baru di wilayah Maumere

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere
ISTIMEWA
Uskup Maumere Mgr. RD. Edwaldus Martinus Sedu 

Bulan Agustus 2006 bapak uskup membentuk staf kuria keuskupan terdiri dari Vikjen, Vikep Pastoral, Ekonom, Ketua Tribunal dan Sekretaris. Selain itu dibentuk pula Dewan Pastoral Keuskupan, Dewan Imam, Dewan Konsultores, Dewan Keuangan/Pembangunan.

Dewan-dewan ini dalam tugasnya masing-masing membantu Bapak Uskup dalam karya kegembalaannya. Juga pada 4 September 2006, Bapak Uskup Sensi memperkenalkan Caritas Nasional (KARINA) sebagai wadah yang menghidupkan kembali peran LPPS, dan pada tanggal 30 November 2006 terbentuklah Caritas Keuskupan Maumere.

Pertemuan pastoral pertama tingkat Keuskupan Maumere terjadi 21-26 Januari 2008, merekomendasikan tiga sektor sebagai fokus pelayanan pastoral di tahun kerja 2008 yaitu pengembangan wawasan dan keterampilan petugas pastoral; pemberdayaan kaum muda; dan ketiga, pemberdayaan keluarga Katolik.

Mgr. Vincentius Sensi Potokota menetapkan Komisi PSE sebagai salah satu komisi prioritas di samping Komisi Pendidikan dan Komisi Kepemudaan.Pada hematnya, pastoral di bidang sosial ekonomi sebetulnya berkaitan erat dengan kesejahteraan rohani-jasmani.

Tugas komisi PSE adalah menggerakan umat untuk berjuang menuju kesejahteraan yang utuh menyeluruh.Dan perjuangan itu mesti merupakan kerja bersama; kesejahteraan mesti berdimensi solidaritas.Komisi PSE memfasilitasi terbentuknya Credit Union Bahtera Sejahtra pada tanggal 15 September 2006.

Mgr. Vincentius Sensi Potokota menjadi Uskup Maumere sampai tanggal 19 April 2007. Pada tanggal tersebut, beliau diangkat menjadi Uskup Agung Ende menggantikan alm. Mgr. Abdon Longinus da Cunha, sekaligus menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Maumere.

Selama Mgr. Sensi menjabat sebagai Uskup dan Administrator Apostolik Keuskupan Maumere, ada tiga paroki baru yang didirikan. Ketiganya adalah paroki Runut pada 10 Juli 2006 dengan Dekrit Uskup Maumere No. 001/SK/KUM/VI/06, paroki Misir pada 27 Mei 2007 dengan Dekrit Administrator Apostolik Keuskupan Maumere No. 57/SK/KUM/V/07, dan paroki Bolawolon pada tanggal 16 September 2007 dengan Dekrit Administrator Apostolik Keuskupan Maumere No. 75/SK/KUM/IX/07.

Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD: Uskup Kedua Maumere

Tahta lowong di Keuskupan Maumere berakhir 9 Januari 2008 saat Paus Benediktus menunjuk Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD menjadi Uskup Maumere. Tanggal 25 April 2008, Uskup Kherubim tetap dengan mottonya ketika menjadi Uskup Weetebula: Ut Omnes Unum Sint (Semoga Mereka Semua Bersatu) merayakan misa pontifikal di gereja Katedral St. Yosep Maumere.

Sebagai Uskup senior dan putera asli kabupaten Sikka, Mgr. Kherubim sangat sadar bahwa sebagai keuskupan baru, Keuskupan Maumere mesti dibangun di atas fondasi kerohanian yang kokoh.

Mgr. Kherubim mencanangkan ziarah umum umat sekeuskupan setiap tanggal 13 Oktober di Sanctuarium Fatima Lela dan 13 Mei di Bukit Maria Bunda Segala Bangsa Nilo; dan memaklumkan Kristus Raja sebagai pelindung Keuskupan Maumere.

Dibuka adorasi abadi di keuskupan ini. Ini diawali dengan 2 kali retret tentang Adorasi Abadi bagi para imam projo Keuskupan Maumere 27-31 Juli 2009 dan 17-21 Mei 2010 di Wisma Nasareth Nelle. Retret yang dipimpin oleh P. Thom dan Rm. Doug Harris dari Australia; mengusul pembangunan kapela adorasi abadi di samping Gereja Katedral Santo Yosep, lalu kapela adorasi abadi di paroki Sikka dan terakhir di paroki Kloangrotat.

Perhatian terhadap kerohanian para imamnya juga nyata dalam retret bersama tiga tahun berturut-turut (2014, 2015, dan 2016) di Lembah Karmel Cikanyere, di bawah bimbingan Romo Yohanes Indrakusuma, CSE. Retret ini memperkenalkan para imam Keuskupan Maumere pada cara baru dalam membina kerohanian dan berpastoral melalui KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus) dengan gaya karismatik.

Mengenai kelompok kharismatik, Uskup Kherubim memberi perhatian dengan menghidupkan kelompok-kelompok karismatik di paroki-paroki dan mewadahinya dalam PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik).

Komunitas Sahabat Flores turut andil dalam menghidupkan karismatik dan juga kelompok kategorial Catholic Fammily Ministry seperti Priskat (Pria Sejati Katolik) dan Waberkat (Wanita Berhikmat Katolik).Dua kelompok kategorial terakhir ini ditangani oleh para Romo MGL (Missionaries of God's Love).

Di bidang pengembangan sosial ekonomi, Uskup Kherubim membuat terobosan pastoral yang berdampak pada percepatan kesejahteraan. Dalam kerja sama dengan PT. BizDEC Solo dan PT. Kharisma Baja Utama, Keuskupan Maumere mendirikan PT. Langit Laut Biru (PT. LLB) pada tanggal 6 Agustus 2010 yang berkomitmen mendirikan pabrik pengolahan rumput laut.

Namun sayang, kerja sama tiga pihak tersebut tidak berkembang. Usaha budidaya dan pengolahan rumput laut gagal.PT. LLB tetap eksis dengan menekuni usaha perbengkelan kayu dan besi melanjutkan kharisma bengkel misi tempo dulu.

Mimpi besar menerapkan pemanfatan teknologi untuk mendongrak ekonomi umat juga munculkan gagasan pembentuk MIC (Maumere Inovation Center) sebagai wadah inovasi pastoral sosial ekonomi umat Keuskupan Maumere.

MIC dimaksudkan sebagai wadah untuk menghimpun pelbagai kalangan yang peduli pada pemberdayaan dan pembangunan masyarakat. Di dalamnya berbagai unsur seperti PSE Gereja, Pemerintah, LSM, CU, Perguruan Tinggi, SMK, juga dari unsur agama lain dihimpun dan berdiskusi.

Meski MIC tidak sampai terbentuk, namun syukurlah gagasan ini kemudian terjelma dalam SIC (Sikka Inovation Center) saat ini. Sekalipun SIC adalah milik Pemda Sikka, namun harus diakui bahwa SIC mendapat inspirasi dari Solo Techno Park.

Sedangkan di keuskupan Maumere, gagasan MIC terjelma kemudian dalam pembentukan PUKAT (Profesinalisme Usahawan Katolik) dan upaya pendirian Politeknik Cristo Re yang masih dalam format PDD dari Politeknik ATMI Surakarta.

Pemberdayaan di bidang ekonomi mesti dijiwai dan diimplementasikan dalam bentuk-bentuk nyata solidaritas.Upaya ini mewujud dalam pembentukan Badan Pengelola Dana Solidaritas Keuskupan Maumere sejak tahun 2011. Badan ini mengelola dana geser atau seribu rupiah dari setiap umat dan dana solidaritas pendidikan yang diperoleh dari setiap peserta didik di masing-masing jenjang pendidikan.

Selain itu, membangun rumah keuskupan atau Lepo Bispu adalah salah satu karya penting Uskup Kherubim.Di atas tanah seluas kurang lebih 3 ha di kawasan Wairklau Maumere tersebut, Bapak Uskup Kherubim berharap agar semua aktivitas perangkat pastoral berada dalam satu tempat.

Diharapkan di kantor itu Pusat Pastoral dan semua perangkatnya (biro dan komisi) bekerja. Dengan demikian pastor dan umat dari paroki-paroki bisa langsung ke Lepo Bispu (demikian nama istana keuskupan Maumere) untuk segala macam urusan kerohanian dan pastoral. Pembangunan Lepo dimulai pada tahun 2011.Bapak Uskup bersama pada pembantunya sudah tinggal di Lepo Bispu sejak tahun 2013 meski masih ada beberapa unit belum dibangun.

Setelah lima tahun menjadi Uskup Maumere, Uskup Kherubim merasa perlu untuk mengadakan Sinode Keuskupan. Ini dimaksudkan untuk mengembangkan cara baru berpastoral yakni pastoral yang lebih menjawabi situasi uat keuskupan Maumere.

Pastoral yang lebih kontekstual diharapkan mengubah wajah Gereja Maumere menjadi sungguh-sungguh tanda yang hidup dari kehadiran yang membebaskan umatNya.

Sinode Keuskupan yang berlangsung sepanjang satu tahun dibuka secara resmi pada perayaan Pentekosta, 27 Mei 2012 dengan tema: "Jadilah Saksi Kristus".

Dalam surat gembala untuk Sinode I Keuskupan Maumere tersebut, Bapak Uskup menulis: "Inilah undangan dan perintah Yesus sendiri, agar kita menjadi saksi-Nya bersama dengan Roh Kudus. Moga-moga dengan bimbingan Roh-Nya, Allah sendiri hadir dan membaharui keuskupan kita.Tetapi adalah tugas kita juga untuk bahu-membahu menjadikan Keuskupan ini semakin tanggap terhadap tantangan zaman."

Dalam proses sinode selama setahun itu, para pelayan pastoral, baik klerus maupun awam, dilatih untuk memfasilitasi proses sinide ini, mulai dari Komunitas-Komunitas Basis Gerejawi sampai di tingkat keuskupan.

Sejumlah petugas dilatih untuk menangkap dan mendokumentasikan hasil proses sinode dari berbagai tahap, mulai dari tingkat basis sampai tingkat keuskupan, yang kemudian dioleh di sekretariat keuskupan. Semua proses tersebut dirangkum pada puncak Sinode pada tanggal 20-25 Oktober 2013.

Proses sinode menampilkan keprihatinan-keprihantinan pastoral yang dibingkai dengan nama potret buram Keuskupan Maumere; seperti warga miskinmeski cenderung berpesta pora, air bersih sulit diakses; bapak-bapak cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan Gereja, keluarga berantakan akibat KDRT, lemah pula pendidikan nilai di dalam keluarga, dan dibidang sosial kemasyarakatan, warga tidak memiliki pemahaman politik kritis sementara para petugas negara tidak peduli.

Sementara itu keterpurukan juga disebabkan oleh model Gereja Kultis membuat iman terasa tidak relevan dengan perjuangan hidup. Gereja seperti menghindar dari perjuangan kemasyarakatan di tengah gurita kapitalisme global, ketidakpedulian negara dan relasi sosial yang menindas.

Dari situ Sinode I Keuskupan Maumere menghasilkan dokumen penting untuk reksa pastoral Keuskupan Maumere, dengan visi: Keuskupan Maumere yang beriman, sejahtera, solider dan membebaskan dalam terang Sabda Allah.

Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan tiga tugas pokok berikut: 1) Mereorientasi Gereja Keuskupan Maumere dan pastoralnya sesuai dengan semangat Yesus demi mengintegrasikan ibadah dan perjuangan kemasyarakatan. 2) Memberdayakan umat dan warga dalam pelbagai aspek kehidupan. 3) Memperjuangkan perubahan struktur kemasyarakatan demi menciptakan peluang yang lebih besar bagi perkembangan orang perorangan dan masyarakat.

Misi ketiga diimplementasi lebih lanjut dalam empat hal: 1) Mengembangkan model-model pengembangan ekonomi yang lebih efektif dan berorientasi kepada masyarakat. 2) Memperjuangkan sistem pemerintahan/negara yang lebih berpihak kepada masyarakat warga. 3) Mengembangkan tata nilai baru yang lebih menjamin perkembangan manusia dan masyarakat. 4) Mengembangkan solidaritas antar umat dan warga lintas kelompok.

Visi dan misi tersebut diperjuangkan melalui dua strategi: 1) Pemberdayaan petugas pastoral, baik yang tertahbis maupun awam, khsusunya pelayan pastoral di Komunitas Basis Gerejawi (KBG); dan 2) Pemberdayaan Komunias Basis Gerejawi (KBG), baik basis teritorial maupun basis kategorial.

Perlu dicatat juga beberapa hal selama kepemimpinan Uskup Kherubim, yakni pembentukan Paroki-Paroki Baru, yakni paroki Feondari dan Habibola; lembaga-lembaga pastoral keuskupan seperti PT. Krisrama yang membawai pengolahan lahan HGU Nangahale; pendirian Yayasan St. Elisabet Lela yang membawai Rumah Sakit Lela dan BP. Nita, dan pendirian Yayasan Cristo Re yang memayungi Politeknik Cristo Re.

Dalam kaitan dengan pemberdayaan sumber daya manusia, pada masa kepemimpinan Uskup Kherubim, Seminari Bunda Segala Bangsa ditingkatkan statusnya; tidak hanya sekedar konvik (asrama) dari Seminari St. Yohanes berkhmans Mataloko, tetapi menjadi Seminari Menengah sendiri kilik Keuskupan Maumere. Seiring dengan itu, terjadi peningkatan jumlah para calon imam (frater) untuk Keuskupan Maumere di Seminari Tinggi.

Patut disebutkan pula bahwa selama masa kepemimpinan Uskup Kherubim atau kurun waktu 2008-2018 tercatat 22 biara baru berkarya di keuskupan maumere (9 tarekat pria dan 13 tarekat wanita). Bagi Uskup Kherubim, keuskupan memerlukan tarekat-taarekat untuk berkarya memajukan keuskupan sesuai dengan kharismanya masing-masing.

Mgr. Edwaldus Martinus Sedu: Uskup Ketiga Maumere

Jelang usia 75 tahun, pada bulan Januari 2016, Uskup Kherubim, taati Kitab Hukum Kanonik mengajukan surat pengunduran diri. Tahta Suci mengabulkan pengunduran diri tersebut pada tahun 2017 dengan catatan "NUNC PRO TUNC", sekarang dikabulkan sampai tunggu waktunya.

Permohonan pengunduran diri Uskup Kherubim dikabulkan, tapi berlakunya sampai ada pengganti.Dengan demikian tidak perlu pengangkatan seorang Administrator.

Dalam pada itu, Bapak Uskup Kherubim diminta untuk membuat laporan tentang situasi terkini Keuskupan Maumere dalam segala aspeknya, termasuk berapa jumlah imamnya; sekaligus mengajukan tiga nama yang dianggap layak untuk menggantikannya.

Dengan demikian proses menuju penunjukan Uskup Baru Maumere dimulai, yang berpuncak hari Sabtu, 14 Juli 2018 pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 18.00 waktu Maumere, Bapa Suci Fransiskus menunjuk R.D. Edwaldus Martinus Sedu, Vikjen Keuskupan Maumere menjadi Uskup Maumere.

Dengan mengambil motto DUC IN ALTUM, Mgr. Ewal hendak melanjutkan apa yang telah sekian lama dialaminya dalam pastoral di Keuskupan Maumere. Uskup Ewal mengikuti dengan baik karya pastoral di keuskupan ini.Betapa tidak, sejak ditahbiskan menjadi imam tahun 1991, Mgr. Ewal sudah berkarya di wilayah keuskupan ini.

Karya pastoral teritorial dijalani dalam 5-6 tahun pertama imamatnya. Mulanya sebagai Pastor Pembantu di paroki St. Yosep Maumere (1991-1993), lalu menjadi pastor kepala di paroki St. Mari dari Gunung Karmel Wolofeo (1993-1995); lalu kembali ke kota menjadi Pastor Paroki St. Yosep Maumere (195-1997).

Setelah menempuh pendidikan S2 bidang pedagogi di Universitas Salesian Roma-Italia (1997-2001), beliau berkarya di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret sebagai staf pendamping sampai menjadi Prefek, Wakil Praeses dan Praeses.

Kesibukan mendampingi para calon imam projo di Seminari Tinggi, beliau juga mengemban beberapa tugas di lingkungan pastoral Keuskupan Maumere: moderator WKRI, Ketua Yayasan St. Lukas (2009-2011), Ketua Yayasan St. Elisabet (2011-sekarang), Anggota Dewan Konsultores Keuskupan Maumere (2010 -sekarang), Ketua Pelaksana Dewan Imam Keuskupan Maumere (2012-sekarang), dan terakhir sebagai Vikjen Keuskupan Maumere (2015-2018).

Dalam sebuah wawancara, mengomentari Uskup Mgr. Ewal, Mgr. Kherubim berkata: "motto `bertolaklah ke tempat yang dalam' ini memang pas karena apa yang kita sudah buat dilanjutkan dan lebih mendalam lagi." Dio volente, Domino inspirante.

Allah menghendaki, Tuhan pula yang menginspirasi.Dengan uskup baru ini, Keuskupan Maumere melangkah bersama mengembangkan dan melestarikan segala karya yang telah dimulai para pendahulu. Proficiat Mgr. Edwaldus Martinus Sedu. Selamat melayani umat Allah. Amapu benjer. Tuhan memberkati.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved