Opini Pos Kupang

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere

Berdasarkan laporan tersebut, P. Metz meminta tenaga imam untuk membangun stasi-stasi baru di wilayah Maumere

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere
ISTIMEWA
Uskup Maumere Mgr. RD. Edwaldus Martinus Sedu 

Tahun 1914 itu umat Katolik di Maumere tercatat 17.402 orang.Sementara itu Pusat Misi Ndona mulai dibangun tahun 1915 (sekolah standard, istana uskup -tahun 1916). Pada Nopember 1916 Para Suster SSpS tiba di Lela. Tahun 1917 para imam, bruder SJ dan para suster SCMM mulai meninggalkan Flores.

Mgr. Noyen meninggal di Steyl, Belanda pada 24 Februari 1921, diganti Mgr. Arnoldus Verstraelen, SVD yang ditahbiskan di Steyl pada 1 Oktober 1922 dan tiba di Ndona, 15 Mei 1923.

Mgr. Verstaellen, SVD mendirikan 4 paroki baru di Maumere, Nangahale, Lei-Palue, Bola dan Lekebai. Tahun 1926, Mgr. Verstraelen juga mendirikan Seminari di Sikka dipimpin P. Frans Cornelissen,SVD. Kemudian tahun 1929 dipindahkan ke Mataloko.

Mgr. Verstraelen meninggal 16 Maret 1932 dalam kecelakaan mobil. Tanggal 25 April 1933 Paus Pius XI mengangkat Mgr. H. Leven, SVD menggantikan Mgr. Verstraelen, SVD dan ditabhiskan di Uden-Belanda pada 12 November 1933.

Tanggal 20 April 1934 Mgr. H. Leven, SVD tiba di Ndona. Tahun 1935 beliau mendirikan Conggregatio Imitatio Jesu (CIJ). Mgr.H. Leven, SVD mendirikan 4 paroki baru di Maumere yaitu: Watublapi, Kewapante, Wairpelit, dan Boganatar.

Pada tahun tersebut Mgr. Leven menahbiskan 2 imam pribumi pertama P. Gabriel Manek SVD dan P. Karel Kale Bale SVD. Pada tanggal 15 Agustus 1942 Mgr Leven menahbiskan lagi 2 imam pribumi: P. Yan Bala SVD dan P. Rufinus Pederico SVD.

Pada tanggal 30 Agustus 1943 tiba di Ende 2 uskup Jepang (Mgr. P.Yamaguchi dan Mgr Aloysius Ogihara) serta 2 romo (Rm. Michael Iwanaga dan Rm. Philipus Kyuno). Selama tinggal di Flores, Mgr. Yamaguchi menjadi pengantara yang baik antara tentara Jepang dan Misi Katolik Pulau Flores, khususnya dengan Mgr. H. Leven, sehingga Misi Katolik tetap bertahan. Mereka tinggal sampai dengan tanggal 30 Agustus 1945.

Pada tanggal 12 Desember 1943, Mgr Leven menahbiskan lagi seorang imam pribumi yakni P.Adrianus Conterius SVD. Tahun 1944 Mgr Leven menahbiskan Romo Lukas Lusi, sebagai imam diosesan pertama. Tanggal 16 September 1945, Mgr Leven menahbiskan 7 imam pribumi lagi yaitu : P.Zacharias Ze SVD, P.Piet Muda SVD, P.Lambert Lame Uran SVD, P. Yos Dias Viera SVD, P.Markus Malar SVD, P.Bruno Bras SVD dan RD. Alo Ding.

Tahun 1950 Mgr Leven, SVD mengusulkan agar Flores dibagi menjadi 3 vikariat dan ia sendiri meminta untuk dibebastugaskan dari Vikariat Apostolik karena kondisi kesehatan menurun.

Tahun 1951 Roma membentuk 3 Vikariat di Flores yaitu: Ruteng: Mgr. Van Bekkum, SVD; Ende: Mgr. A. Thijssen, SVD; Larantuka: Mgr. G. Manek, SVD. Selama masa Mgr. Anton Thijssen di Maumere didirikan satu paroki baru yaitu paroki Tilang (1953) dengan P. de Zwart sebagai Pastor Paroki.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved