Opini Pos Kupang

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere

Berdasarkan laporan tersebut, P. Metz meminta tenaga imam untuk membangun stasi-stasi baru di wilayah Maumere

Inilah Selayang Pandang Sejarah Gereja Keuskupan Maumere
ISTIMEWA
Uskup Maumere Mgr. RD. Edwaldus Martinus Sedu 

Oleh R.D. Richardus Muga Buku
Sie Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Maumere

POS-KUPANG.COM -- Wilayah gereja lokal Keuskupan Maumere sebangun dengan luas wilayah Kabupaten Sikka, 1.732 Km². Jumlah umat saat ini sebanyak 302.975 jiwa, tersebar di 36 paroki, 185 stasi. Jumlah imam diosesan 62 orang dan sejumlah tarekat pater, bruder, suster dan frater.

Tahun 1566 menjadi awal masuknya benih iman Katolik di wilayah Keuskupan Maumere sekarang ini. Dua pastor Dominikan tiba di Paga, P. Joao Bautista da Fortalezza dan Sikka (P. Simao da Madre de Deos). Di tahun 1613 sudah ada 200 keluarga Katolik di Sikka.

Selanjutnya wilayah misi di Sikka dikunjungi beberapa misionaris, meski mereka tidak lama tinggal, sampai tahun 1868 dimana P. Metz mengutus P. Omzigt (seorang Yesuit) ke Maumere untuk melihat situasi umat. P. Omzigt melaporkan jumlah umat Katolik di Maumere: 6.310 orang.

Berdasarkan laporan tersebut, P. Metz meminta tenaga imam untuk membangun stasi-stasi baru di wilayah Maumere. Tahun 1873 P. Omzigt ditunjuk sebagai pastor stasi Maumere membangun gereja darurat dengan pelindung St. Yosep.

Selanjutnya datang lagi beberapa imam dan bruder Yesuit (SJ) serta para suster Belas Kasih (SCMM). Mereka mendirikan stasi dan paroki baru, sekolah dan asrama tahun 1874, sekolah dan asrama putra di Maumere (tahun 1897 pindah ke Lela. Tahun 1884, Paroki Sikka dan Sekolah Dasar dengan P. Lecoque q'Armandville.

Tahun 1887, Paroki Koting dan Sekolah Dasar dengan P. Ijseldijk. Tahun 1889, Paroki Nita dengan P. Roupe Van der Voort. Tahun 1890, Sekolah dan asrama putri di Maumere, diasuh Para Suster Belas Kasih (tahun 1899, dipindahkan ke Lela). Tahun 1893, Paroki Lela yang dilayani Pastor Sikka. Tahun 1900 P. Loojimans ditunjuk sebagai Pastor Lela.

Pada bulan November 1913, Roma mengirim dekrit tentang pembentukan Prefektur Apostolik Sunda Kecil dengan Prefek Apostolik Mgr. Petrus Noyen SVD sebagai Pembesar Misi Katolik Pulau Timor.

Dekrit tersebut menyatakan Pulau Flores di luar Sunda Kecil. Namun dalam pembicaraan antara Mgr. Noyen dengan pembesar Yesuit, disepakati Pulau Flores masuk dalam Prefektur Apostolik Sunda Kecil.

Ketika berkunjung ke Flores bulan Maret-Juni 1914, Mgr. Noyen memilih Ndona sebagai Pusat Misi Kepulauan Sunda Kecil. Sejak itu misi di Flores beralih dari Serikat Yesus kepada Serikat Sabda Allah; menyusul pula para Suster Belas kasih (SCMM) akan diganti oleh Suster SSpS.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved