Berita Ekonomi Bisnis

Jangan Ubah Motif Tenun Ikat NTT, Ada Filosofinya

Motif tenun ikat NTT jangan diubah karena memiliki makna filosofis.Harga tenun ikat NTT juga harus bersaing

Jangan Ubah Motif Tenun Ikat NTT, Ada Filosofinya
instagram/@victoryjoss
Julie Laiskodat & Merry Jogo 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati

POS-KUPANG.COM | KUPANG-TENUN ikat tidak hanya di NTT, tapi juga di daerah lainnya. Karena itu, NTT harus berbenah diri, apalagi sudah ada motif tenun ikat yang sudah diprinting di daerah lain.

"Tenun tidak hanya di NTT, tapi ada juga di Maluku, NTB dan daerah lainnya. Kita harus membenah diri, karena motif kita sudah diprinting oleh daerah lain. Maka itu kita harus menjaga kualitas yang bagus dengan harga yang harus bersaing. Karena itu, etos kerja penenun harus diperhatikan," tegas Julie.

Julie menekankan untuk menjaga kualitas dan tidak boleh mengubah motif yang mempunyai nilai dan filosofi dari leluhur. Karena memiliki nilai jual.

Baca: Butuh Rumah NTT Untuk Tampung Hasil Tenun Perajin Tenun Ikat

Baca: Sudah Punya Kekasih, Yuk Kirimkan 6 Pesan Indah Ini Setiap Hari Untuknya

Untuk itu, lanjutnya, Dekranasda NTT akan bekerja sama dengan dinas-dinas terkait untuk memberikan solusi kepada pengrajin.

Menurut kepala dinas, demikian Julie, para perajin generasi muda sudah tidak lagi menenun.

"Kenapa nona-nona cantik tidak mau menenun? Penenun selama ini menenun hanya sambilan, sudah dari kebun baru menenun. Kenapa mengandalkan sesuatu yang musiman seperti bertani dan nelayan. Padahal leluhur meninggalkan budaya menenun tanpa kenal musim," tegasnya.

Fashion Desainer, Musa Widyatmodjo, juga hadir. Ia mengatakan, kreasi tenunan yang ada di NTT luar biasa, tapi kalau tidak diperhatikan maka ke depan tak bisa dijamin masa depannya.

Kain ikat tenun Sikka.
Kain ikat tenun Sikka. (POS KUPANG.COM/EGINIUS MOA)

Ia mengakui NTT memiliki banyak motif dari berbagai daerah yang indah-indah.

"Jadi putera-puteri NTT harus menghafal asal kain tenun dari setiap daerah dari motifnya. Kalau dulu pakai kain tenun hanya dililit di badan, tapi sekarang sudah lebih modis. Jadi mau merombak masa depan tenunan NTT harus diubah dari penenun, desain dan konsumennya," kata Musa. (*)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved