Berita Kabupaten Sikka
Distribusi Rabies Tertinggi Ada di Nita
bukan hanya menjadi bukan hanya menjadi kesayangan, sekaligus musuh dalam selimut yang bisa saja membunuh tuannya
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Euginius Mo’a
POS-KUPANG.COM| MAUMERE---Masyarakat Kecamatan Nita, 10 KM arah barat Kota Maumere di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus lebih waspada terhadap anjing peliharaan.
Hewan kesayangan di rumah-rumah tangga, bukan hanya menjadi bukan hanya menjadi kesayangan, sekaligus musuh dalam selimut yang bisa saja membunuh tuannya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sikka, Drg. Harlin Hutauruk, mengatakan kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) terutama anjing terbanyak terjadi di Kecamatan Nita.
Selama Januari sampai akhir Agustus 2018 terjadi 115 kasus gigitan dan 96 kasus gugutan yang beresiko tinggi telah disuntik vaksin anti rabies.
“Distribusi kasus gigitan berdasarkan wilayah, Nita tertinggi menyusul Puskesma Kopeta dari 102 kasus yang beresiko dan divaksin 87 dan di Puskesmas Beru dari 109 kasus 94 divaksin rabies,” kata Harlin,Jumat (7/9/2018) di Maumere.
Harlin sudah memaparkan laporan ini dalam pertemuan Kadis Pertanian Perkebunan dan Peternakan Sikka, Ir.Hengki Sali, dengan Direktur Kesehatan Hewan Dirjen Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Dr. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Kepala Balai Besar Veteriner Nusa Tenggara, Dr.Mosa Tenaya, Kasubdit Zoonosis Kementarian Kesehatan RI, drh. Endang Burni, Kabid Kesehatan Hewan Disnak NTT, Yos Dandut, Sekretaris Penanggulangan Rabies Flores Lembata, dr.Asep Purnama,S.Pd, Kamis (6/9/2018) siang di Aula Dinas Pertanian Sikka.
Pertemuan ini membahas terobosan lain yang kelak dilakukan paska kasus kematian EG (5.5) hari Minggu (2/9/2018). EG dicakar anjing sekitar lima bulan lalu di Desa Baomekot. Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka.
Harlin menjelaskan, trend gigitan selama 2018 mengalami kenaikan. Sampai bulan Juli 2018 terjadi 750 kasus. Sampai Desember diperkirakan terjadi 1.500 kasus. Korban menerima suntikan VAR sejak Januari sampai Juli sebanyak 622 orang.
“Korban gigitan di-‘screening’ dulu. Kalau korban dengan resiko tinggi kita berikan prioritas disuntik vaksin anti rabies,” tandas Harlin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petugas_20180907_112737.jpg)