Berita Kabupaten Sumba Barat

Beginilah Kisah Pater Robert Bangun Museum

Pastor inspiratif dari Komunitas Redemptoris Sumba, Pater Robert Ramone, C. Ss. R berjibaku memikirkan cara terbaik melestarikan tenun ikat

Beginilah Kisah Pater Robert Bangun Museum
POS KUPANG/GERADUS MANYELA
Pater Robert memantau persiapan peresmia Museun Tenun Ikat Sumba.

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Geradus Manyela

POS-KUPANG. COM|TAMBOLAKA --Pastor inspiratif dari Komunitas Redemptoris Sumba, Pater Robert Ramone, C. Ss. R berjibaku memikirkan cara terbaik melestarikan tenun ikat Sumba dalam sebuah wadah yang monumental.

Setelah sukses melestarikan rumah adat Sumba melalui Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba yang dikenal luas seantero dunia dengan Rumah Budaya, kini pastor kelahiran Kodi, Sumba Barat Daya ini mendirikan Museum Tenun Atma Hondu yang siang ini akan diresmikan oleh Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon atau pejabat yang mewakili.

Acara pemberkatan dan peresmian Museum Atma Hondu, Kapela St. Johannes Gerardo dan Rumal Tinggal Pastor akan diawali dengan misa dipimpin langsung Uskup Weetabula, Edmund Woga, CSsR pukul 09.00 Wita dan pukul 16.00 Wita dilangsungkan acara peresmian oleh pemerintah.

Seperti apa kisah Pater Robert membangun museum tenun ikat Sumba?

Selama 5 tahun rohaniwan Katolik ini berjuang mencari sumber dana. Inspurasi ini muncul sejak tahun 2013.

"Saya nekat punya museum karena banyak kain tua untuk pembelajaran generasi muda, terutama Sumba. Tahun 2013 saya buat proposal dan mengirim ke Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,"tutur Pater Robert di Rumah Budaya, Selasa (28/8/2018) malam.

Memang tak mudah mendapatkan respons dari lembaga pemerintah ini. Propisal pertama hilang, Pater Robert mengirim lagi. Namun proposal kedua juga hilang. Pastor yang tak putus asah ini mengirim lagi proposal namun hilang lagi dan dia mengirim lagi proposalnya tapi hilang juga seiring perpindahan kantor.

Tekad mendirikan museum terus membara sehingga mengirim lagi proposal kelima dan langsung mengawal. Selain itu, Pater Robert mengundang Ibu Dewi yang bekerja di Dirjen Kebudayaan untuk datang melihat langsung dan menyaksikan puing bangunan yang berantakan.

Sepulang dari Rumah Budaya, kata Pater Robert, Ibu Dewi mengabarkan proposalnya dikabulkan dengan anggaran Rp 1 miliar, satu-satunya museum swasta di Indonesia yang mendapat bantuan.

Lanjut Pater Robert, setahun berjalan dana Rp 1 miliar ditarik kembali Rp 700 juta, sisa Rp 300 juta yang dikerjakan kontraktor hanya pondasi yang berantakan. Pater Robert mengajukan permohonan lagi dan mendapat bantuan Rp 650 juta tapi riil yang diperoleh hanya Rp 400 juta. Lagi-lagi kontraktornya tak dapat merampungkan hingga finishing.

Beruntung datang Ibu Bian, seorang donatur berbaik hati yang membantu Rp 500 juta sehingga bangunan itu bisa rampung,walau kualitas kerja kontraktor mengecewakan.

Untuk atap alang-alang Pater Robert harus keluarkan lagi Rp 108 juta dan tambahan ornamen dari lara donatur termasuk seorang dokter yang membantu pembangunan kapela dan seorang ibu yang membantu pembangunan rumah pastor.

Saat ini para donatur turut hadir di Rumah Budaya untuk mengikuti acara pemberkatan dan peresmian.

Pater Robert mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan para donatur yang telah membantu sehingga niat luhurnya tercapai. (*)

Penulis: Gerardus Manyela
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved