Berita NTT

Begini Modus Baru Perekrutan Tenaga Kerja untuk Perdagangan Orang! Masyarakat Diimbau Bijak

Masyarakat diimbau bijak menyikapi tawaran kerja yang diunggah lewat medsos. Ditengarai ini jadi modus baru dalam upaya perdagangan orang

Begini Modus Baru Perekrutan Tenaga Kerja untuk Perdagangan Orang! Masyarakat Diimbau Bijak
pos kupang.com, ryan nong
Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT Kompol Rudy JJ Ledo SIK (kedua dari kiri) memberikan konferensi pers terkait tindak pidana perdagangan orang dengan tersangka RAB (baju hijau) di Mapolda NTT, Senin (27/8/2018). 

Kejadian itu terbongkar pada saat tersangka Arif Richard Nelson Rohi Benggu (42) yang membawa 14 korban yang akan dikirim ke Kalimantan melalui Bandara El Tari pada 2 Agustus 2018 lalu, ditahan setelah petugas bandara mendapati beberapa korban ternyata dipalsukan identitasnya. Pelaku ditangkap karena pada saat itu membawa para korban yang beberapa diantaranya dipalsukan identitasnya untuk diberangkatkan bekerja di Kalimantan.

“Pada saat itu petugas mencium indikasi adanya tindak pidana perdagangan orang yang dilakukan oleh tersangka dengan memberangkatkan para korban. Petugas mendapaati KTP palsu milik para korban dan korban juga diberangkatkan tanpa memiliki dokumen ketenagakerjaan. Selanjutnya korban diamankan oleh Satgas gugus tugas Nakertrans NTT dan dibawa ke Direktorat Kriminal Umum untuk dirproses,” katanya.

Lima korban yang dipalsukan identitasnya dengan KTP palsu dari 14 calon tenaga kerja yang hendak diberangkatkan itu terdiri dari Alfred Kolis, Daut Ferdinatus banu, Eklopas Taemnanu, Jefrianto Banu, serta Junias Taemnanu. Korban ini berasal dari Amfoang Barat Daya dan Amfoang Barat Laut Kabupaten Kupang NTT.

Rudy menjelaskan, berdasarkan pengembangan yang dilakukan, Polisi menemukan tersangka ARB memakai modus menawarkan lowongan kerja menggunakan media social facebook untuk menarik korban. Tersangka ARB memuat iklan lowongan kerja pada facebook dalam laman group Lowongan Kerja Kota Kupang. Korban yang tertarik pada tawaran ini kemudian menemui tersangka dan dijanjikan akan dipekerjakan melalui PT. Duta Karya NTB sebagai buruh perkebunan kelapa sawit pada PT Kridatama Lancar di Kalimantan Tengah dengan gaji Rp 2.100.000 dan bonus.

Tersangka kemudian mengirim dokumen para korban berupa Kartu Keluarga (KK) via aplikasi WhatsApp kepada Suparlan (S) yang bertindak sebagai Direktur Utama PT Duta karya NTB untuk membuat sendiri KTP milik korban dan dikirim kembali untuk dicetak oleh tersangka.

“Tersangka ARB yang bertugas merekrut diberi surat tugas oleh perusahaan PT Duta Karya NTB, namun perusahaan ini tidak terdaftar di Disnakertrans NTT. Kalau ini yang kedua kalinya, tersangka ARB datang untuk merekrut orang dari sini dan dibawa ke Kalimantan, dan setiap pengiriman tersangka akan digaji Rp 2 juta,” tambah Rudy.

Rudy menjelaskan, tindakan yang dilakukan oleh tersangka ARB dan perusahaannya masuk dalam komponen tindak pidana perdagangan orang dimana tindakan, proses, cara, tujuan yang dilakukan terindikasi merupakan tindak eksploitasi dan perdagangan orang.

“Ada indikasi pemalsuan dokumen, penipuan, juga pemanfaatan tenaga berlebihan, pemberlakuan jam kerja yang tak terbatas. Dugaannya untuk tujuan eksploitasi meskipun ini di dalam negeri saja,” papar Rudy.

Oleh karena itu, tersangka ARB disangkakan dengan pasal 2 ayat 1 dan pasal 10 UU Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) join pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman paling lama 15 tahun penjara.

Saat ini tersangka ARB telah ditahan oleh Ditreskrimum Polda NTT dan akan dilakukan pengembangan hingga perusahaan bersangkutan, yakni PT Duta Karya NTB sebagai penyalur tenaga kerja serta PT Kridatama Lancar sebagai pengguna jasa tenaga kerja. (*)

 
 

Penulis: Ryan Nong
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved