Berita Regional

Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot

Karnaval anak di Probolinggo yang pesertanya dilengkapi senjata mainan dan berkostum hitam-hitam bercadar berujung pada pemecatan Kepala TK.

Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot
KOMPAS.com/Screenshot Facebook
Karnaval TK yang menuai kontroversi 

POS-KUPANG.COM | PROBOLINGGO - Karnaval anak di Probolinggo yang pesertanya dilengkapi senjata mainan dan berkostum hitam-hitam bercadar berujung pada pemecatan Kepala TK.

Kepala TK Kartika V/69 Hartatik dicopot dan ditarik menjadi staf di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Probolinggo.

Kepala Disdikpora M Maskur mengatakan, dari hasil penyelidikan internal dari Disdikpora, Hartatik mengaku lalai.

Baca: Melihat Aksi Serda Ambar, Paspampres dari TNI AL, Warga Memuji Cantiknya

"Ini sanksi tegas, pencopotan. Kami sepakat memberi sanksi berupa pencopotan. Hartatik menjadi staf Disdikpora sejak Kamis (23/8/2018) besok," katanya kepada wartawan, Rabu (22/8/2018).

"Posisi Kepala TK Kartika V-69 kosong. Siapa penggantinya kami akan melakukan rapat koordinasi," tambahnya sembari menunjukkan surat keputusan pemberhentian Hartatik.

Sanksi tersebut diberikan dengan harapan kejadian serupa tidak terulang lagi. Hartatik tidak berkoordinasi dengan dinas pun Kodim 0820 Probolinggo selaku pembina lembaga pendidikan terkait karnaval tersebut.

Kejadian tersebut memantik reaksi sejumlah pihak. Bahkan Mendikbud Muhadjir Effendi mengunjungi TK Kartika V-69 dan menyerahkan bantuan sebesar Rp 25 juta.

Selain memberikan bantuan dan mengunjungi TK Kartika, Mendikbud juga memberikan pesan khusus kepada guru TK.

Hartatik sendiri menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Dirinya tidak bermaksud apapun peserta didiknya mengenakan kostum pawai yang ternyata kontroversial, kecuali hanya untuk hiburan memperingati HUT RI Ke-73.

Ketua Persit Cabang XXXV/0820 Probolinggo, Yuliana Tungga Dewi, yang juga Pembina Yayasan Kartika, menyampaikan permohonan maafnya ke publik.

Ia mengaku sebelumnya, komunikasi dengan pihak sekolah cukup lemah sehingga terjadi peristiwa tersebut.

"Kami meminta maaf atas kejadian ini. Ke depan kami akan lebih berhati-hati. Tidak ada niatan dari kami untuk menanamkan faham yang menyimpang," terangnya usai kunjungan Mendikbud. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved