Berita Internasional

Presiden Palestina Mahmoud Abbas Mengancam Kaji Semua Kesepakatan Perdamaian dengan Israel

Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Sabtu (18/8) memperingatkan bahwa semua kesepakatan perdamaian yang ditandatangani dengan Israel akan dikaji

Presiden Palestina Mahmoud Abbas Mengancam Kaji Semua Kesepakatan Perdamaian dengan Israel
(Palestinian President Office (PPO)/Handout via REUTERS)
Presiden Palestina Mahmoud Abbas berjalan di dalam rumah sakit di Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki, Senin (21/5/2018). 

POS KUPANG.COM - - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Sabtu (18/8) memperingatkan bahwa semua kesepakatan perdamaian yang ditandatangani dengan Israel akan dikaji jika situasi tidak berubah.

Abbas mengeluarkan peringatan tersebut di dalam pidatonya yang ditayangkan stasiun Televisi Palestina pada akhir pertemuan tiga-hari Dewan Sentral Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.

Baca: Diikuti Saat Pulang Sekolah, Pelajar SMP Alami Pelecehan Seksual di Jalanan


"Israel telah melanggar semua kesepatan yang ditandatangani, mulai dari Kesepakatan Perdamaian Oslo dengan PLO pada 1993 sampai Kesepakatan Ekonomi Palestina pada 1994," kata Abbas, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu pagi.

Presiden Palestina yang berusia 84 tahun itu menuduh Israel terus membangun permukiman dan mengancam akan memangkas tunjangan keluarga orang Palestina yang terbunuh atau dipenjarakan di berbagai penjara Israel.

Ia juga mengecam disetujuinya Hukum Bangsa Negara Israel baru-baru ini sebagai diskriminasi terhadap orang Arab.

Sementara itu, Abbas juga kembali menegaskan penolakan terhadap kesepakatan perdamaian yang diusulkan AS, yang dikenal dengan nama "Kesepakatan Abad Ini", guna menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel.

Pihak Palestina "takkan mengadakan pembicaraan apapun dengan Washington dan takkan menerima baik Amerika Serikat sebagai penaja perdamaian sebelum AS menyesali keputusannya sehubungan dengan Jerusalem, pengungsi dan permukiman", kata Abbas.

Palestina telah memboikot Amerika Serikat sejak 6 Desember 2018, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel, terutama setelah 4 Mei, hari kedutaan besar AS di Israel dipindahkan ke kota suci yang menjadi sengketa tersebut.

Palestina berusaha mendirikan Negara Merdeka dengan Jerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya, sementara Israel berkeras bahwa seluruh Jerusalem adalah ibu kotanya yang abadi. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved