Berita Regional

Dari Penjara, Herman Perintahkan 2 Anaknya Jadi Pengedar Narkoba

Jaringan peredaran narkoba dari dalam Lapas Mata Merah Palembang, kembali terbongkar jajaran Ditresnarkoba Polda Sumatera Selatan.

Dari Penjara, Herman Perintahkan 2 Anaknya Jadi Pengedar Narkoba
KOMPAS.com/Aji YK Putra
Herman napi lapas Merah Mata bersama kedua anaknya saat berada di Polda Sumatera Selatan, Senin (6/8/2018) 

POS-KUPANG.COM | PALEMBANG - Jaringan peredaran narkoba dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mata Merah Palembang, kembali terbongkar jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumatera Selatan.

Mirisnya, tersangka utama, Herman (53), merupakan napi yang menggerakkan kedua anaknya bernama Na (20) dan Id (28) sebagai kaki tangannya.

Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengaku sejam empat bulan terakhir sudah melakukan penyelidikan.

Baca: Aniaya Gadis hingga Diopname, Pria Ini Ditangkap Polisi

Dari penyelidikan, peredaran dikendalikan seorang napi yang mendekam di sel Lapas Merah Mata.

Tenda Oranye Na (20), putri dari Herman diketahui menjadi salah satu kaki tangan dari ayahnya sendiri untuk mengantarkan sabu yang dipesan dari luar sel.

Remaja itu ditangkap di kawasan Jalan Tasik Palembang seusai dipancing petugas dengan barang bukti sebanyak 370 gram sabu dalam empat paket besar.

Dari Na, pengembangan kembali dilakukan hingga kakaknya Id (28) ikut ditangkap saat berada di rumah di Jalan Talang Kerangga Lorong Langgar Nomor 871 RT 14 RW 05 Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang bersama barang bukti 300 butir ekstasi dan 7,16 gram sabu.

"Kurang lebih sudah enam bulan, kedua tersangka yang merupakan anak napi ini menjadi kaki tangan ayahnya untuk menjadi pengedar. Mereka mengantarkan barang atas instruksi Herman," kata Zulkarnain, saat gelar perkara, Senin (6/8/2018).

Zulkarnain menjelaskan, modus yang digunakan ketiganya. Herman akan menelpon Na atau Id jika ada pesanan masuk.

Herman menyelipkan handphone dari balik jeruji untuk menerima pesanan dari para pengedar yang ada di Palembang.

"Seluruh barang bukti sabu dibeli dari Aceh dan diterima kedua anaknya. Jika ada yang pesan, kedua anaknya ini yang mengantarkan barang (sabu)," jelas Kapolda Sumsel.

Polisi menduga, jaringan narkoba dari balik lapas ini melibatkan dua orang pegawai setempat.

Dugaan itu muncul lantaran Herman yang kini sebagai napi dapat memegang telepon seluler meskipun sedang menjalani masa tahanan.

"Kami ada beberapa nama (para napi bandara narkoba), ini salah satu yang berhasil kita ungkap. Oknum pegawai lapas yang terlibat masih kita selidiki," pungkas Direktur narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Farman. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved