Berita Regional

Memasuki Kemarau, 82 Desa Ini Alami Krisis Air Bersih

Sebanyak 82 desa dari 12 kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih akibat dampak kemarau.

Memasuki Kemarau, 82 Desa Ini Alami Krisis Air Bersih
KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
Warga Desa Cekel, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengumpulkan air dari lubang galian di dasar sungai yang mengering, Minggu (3/9/2017). 

POS-KUPANG.COM | GROBOGAN - Sebanyak 82 desa dari 12 kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih akibat dampak kemarau.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, permintaan droping air bersih dari puluhan desa itu sudah berlangsung sejak awal bulan Juni.

"Sejauh ini kami sudah melakukan droping air bersih menggunakan truk tangki sebanyak 57 kali. Musim kemarau di Grobogan baru memasuki 2 bulan ini," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Grobogan, Budi Prihantoro, Kamis (26/7/2018).

Baca: Di Desa Ipir, 10 Unit Rumah dan Lima Unit Sampan Diterjang Gelombang Pantai Selatan

Menurut Budi, dari 82 desa yang terdampak kekeringan, hampir 50 persennya mengalami krisis air bersih parah.

"Selain mengandalkan suplai air bersih, warga juga mencari sumber mata air di sungai, sawah, dan sumur buatan," tutur Budi.

Sekda Grobogan, Moh Sumarsono menyampaikan, krisis air bersih saat kemarau di Kabupaten Grobogan adalah permasalahan krusial.

Hal itu merujuk pada riset geologi yang menyebut wilayah Kabupaten Grobogan adalah kawasan yang minim pasokan air tanah.

Sementara itu, PDAM Grobogan masih fokus mengakses wilayah perkotaan dan belum bisa mencakup wilayah terpencil.

Karenanya, sambung dia, Pemkab Grobogan terus berupaya intensif mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak kemarau.

"Kemarau selalu melanda Grobogan karena memang wilayahnya yang minim sumber air tanahnya," ujar Sumarsono. "Dilaksanakan program Pamsimas sejak 2008. Untuk saat ini sudah disiapkan anggaran untuk droping air sebesar Rp 175 juta. Jika kurang, bisa mengambil dana tak terduga Rp 3,5 miliar," imbuhnya. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved